Windiarti’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

April 9, 2010

Filed under: patihombo (sepenggal kisah dari bukit menoreh — windiarti @ 1:44 am

Sepenggal Kisah dari Bukit Menoreh

Bila mengunjungi perbukitan Menoreh yang tersohor itu, tak akan terbayang bila ada banyak cerita menarik mengenai kehidupan warga di sekitarnya, warga desa yang gigih dan ulet yang berada di Dusun Patihombo. Patihombo adalah nama dusun kami, dusun ini terletak di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Dusun dengan seribu kenangan, disana kami dilahirkan dan dibesarkan. Dusun yang selalu memberikan warganya nafas kehidupan, walau kini telah banyak ditinggalkan warganya. Dusun yang sebenarnya memiliki banyak potensi alam yang menarik, mulai dari adanya beberapa goa batu kapur alami, perbukitan yang indah, aliran sungai yang jernih sampai kekayaan hasil bumi yang bisa dimanfaatkan warga sekitar. Tak heran bila sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani.

Menuju Dusun Patihombo memerlukan waktu sekitar satu setengah jam dari kota Yogyakarta bila menggunakan sepeda motor dan dua jam bila menggunakan bus dan menyambung kemudian ojek. Untuk sampai ke sana, saya melalui jalan yang berkelok-kelok, naik turun gunung, dan melewati hamparan sawah yang luas. Bila berhenti di tepi jalan, kita bisa menyaksikan jurang di kanan kiri jalan, kemudian sejauh pandangan mata lurus kedepan, kita bisa menyaksikan lereng-lereng perbukitan kapur yang menghijau. Itulah salah satu keunikan daerah perbukitan menoreh yang kaya akan keindahan alam.

Dalam hal ketaatan beragama, warga Patihombo adalah warga yang taat beragama. Kebanyakan dari mereka beragama Katholik. Hal ini bisa dilihat dari adanya beberapa tempat ziarah baru di sana, antara lain Goa maria Pangiloning Leres dan Goa Maria Lawangsih. Tempat ziarah ini mereka kembangkan dengan gotong royong yang tinggi dari proses pembuatan tempat ziarah, sampai pada pemeliharaannya. Setelah menjadi tempat ziarah yang banyak dikenal masyarakat, warga tetap rajin untuk mengunjungi dan merawat tempat ziarah itu. Semua itu mereka lakukan demi berkembangnya iman akan Yesus Kristus

Sebagian besar penduduk Patihombo adalah petani. Menekuni kehidupan sebagai petani merupakan pilihan penduduk setempat sedari kecil. Dari alam pemberian Tuhan itulah mereka mencukupi semua kebutuhan hidup. Musim berpengaruh besar terhadap pertanian mereka. Bagi mereka musim hujan kali ini adalah musim yang paling ditunggu-tunggu. Dimana pada musim semua harapan digantungkan, tunas-tunas baru akan tumbuh dan penduduk bisa mulai menanam kembali tanaman palawija, jagung, dan banyak tanaman lain.

Bila musim kemarau tiba, sedikit sulit untuk bisa menanam tanaman baru. Kurangnya air menjadi salah satu alasan. Sebenarnya Patihombo adalah dusun yang subur bila dibandingkan dusun lain, akan tetapi masalah air bila musim kemarau adalah masalah yang cukup sulit. Kebanyakan dari penduduk mencukupi kebutuhan air dengan mengalirkan air dalam selang dari kaki bukit Gilingan. Namun, bila musim kemarau tiba, sumber mata air itu pun sebagian besar berkurang, sehingga warga membuat kebijakan untuk bergiliran mengalirkan air pada setiap rumah. Bisa dibayangkan bila dalam satu sumber air ada 7 selang, berarti setiap tujuh hari sekali air baru akan mengalir ke rumah mereka. Adapun bila giliran mengalirkan air belum tiba dan ternyata air di rumah telah habis, warga mencukupi kebutuhan minum dan mandi pada sungai kecil yang terletak di bekas sawah. Alasan inilah yang membuat sebagian warga yang menanam tanaman dengan kebutuhan air yang besar seperti sayura hijau memutuskan untuk menanam pada musim penghujan saja.

Keuletan adalah kunci dari keberhasilan mereka. Mulai dari menanam, merawat hingga memanen mereka lakukan dengan penuh kesabaran terhadap semua jenis tanaman yang mereka tanam. Ada berbagai tanaman yang mereka tanam, untuk tanaman perkebunan seperti cengkeh, kopi, melinjo, dan masih banyak lagi tanaman lain, sedangkan tanaman pangan seperti pisang, salak, durian, dan sebagainya. Adapun untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka menanam berbagai macam tanaman tersebut bersama-sama agar tetap bisa menyambung kehidupan bila satu jenis tanaman tidak sedang menghasilkan buah, demikian yang dikatakan Bapak Trisno Sumarto “Saya tidak tertarik menanam satu jenis tanaman saja karena hasilnya tidak bisa dipastikan selalu ada, dengan menanam bermacam-macam tanaman dengan umur yang berbeda, bisa untuk menyambung ekonomi keluarga. Kalau hanya menanam satu jenis saja, hanya pada musimnya saja saya mendapatkan hasil”.

Kehidupan mereka memang banyak mereka habiskan di ladang, namun, tidak ada angkutan umum yang menyusuri ruas jalan desa itu. Untuk transportasi, biasanya mereka menggunakan sepeda motor atau menggunakan ojek. Dapat dimaklumi tidak adanya angkutan umum karena sepinya aktifitas keluar dusun, adapun sesekali mereka hanya pergi ke pasar. Jika ingin mengangkut hasil dari ladang seperti rumput atau hasil bumi yang lain, mereka biasa membawanya sendiri tanpa angkutan.

Meskipun mereka tinggal di desa, tetapi ada hal yang membuatnya kalah dengan warga desa lain yaitu jarang adanya petani yang mau menggarap sawah sedangkan lahan cukup luas, air juga berlimpah jika musim penghujan. Menurut Bapak Trisno sumarto, dulunya di Patihombo ada beberapa lahan sawah. Namun, saat ini semua sawah telah dijadikan ladang. Mereka beranggapan bahwa bersawah tidak banyak mendatangkan keuntungan sehingga mereka memilih menanaminya dengan kayu-kayu keras yang bisa dijual dengan cepat dan tanpa perawatan khusus. Padahal, bila mereka tetap membudidayakan tanaman padi, tentu semakin banyak sumber penghasilan mereka. Mereka bisa berswasembada dengan hasil kerja sendiri tanpa harus mendapatkan jatah beras rakyat miskin dari pemerintah.

Memang tak bisa dihindari profesi sebagai seorang petani bagi Bapak Trisno Sumarto terkadang dipandang rendah oleh profesi lain. Pekerjaan ini memerlukan banyak tenaga dengan hasil yang terkadang tidak mencukupi kebutuhan. Namun, siapa sangka bila mereka mempunyai semangat yang besar untuk masalah pendidikan anak. Hampir semua anak-anak di Patihombo semuanya bersekolah. Rata-rata pendidikan mereka adalah setaraf SMA, bahkan adapula yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Tak terkecuali bagi bapak Trisno Sumarto, dari keenam anaknya hampir semuanya lulusan SMA. Ibu Sujirah salah satu orang tua yang anaknya bisa menyelesaikan sekolahnya di perguruan tinggi karena usahanya bersama suami. “Anak saya bisa sekolah karena hasil saya menjual kayu, menjual kambing, cengkeh dan hasil-hasil lainnya” demikian katanya. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa mereka memiliki banyak cara untuk mengumpulkan uang guna biaya anaknya. Usaha mereka benar-benar maksimal demi kebahagiaan anaknya.

Anak-anak bapak Trisno Sumarto, saat ini semuanya telah hidup mandiri. Empat anak dari bapak Trisno Sumarto memutuskan untuk pergi ke kota untuk bekerja. Dua lainnya memilih tetap tinggal di desa tempat kelahiran mereka. Ada suatu pertanyaan yang mengganjal pemikiran saya ketika tahu masih ada anak yang masih mau tinggal di Patihombo. Ketika saya menanyakan kepada Mas Supriyadi alasannya, dia hanya menjawab singkat “Saya sudah merasa nyaman bekerja di sini, jadi tidak perlu merantau ke kota, lagipula saya jadi dekat dengan orang tua” Bapak Trisno Sumarto menambahkan “Bila dibandingkan, kehidupan mereka tidak jauh berbeda, buktinya saja yang tinggal di desa juga bisa membangun rumah yang nyaman, tak kalah dengan yang di kota”

Hal ini tentu akan sangat berbeda bila kita membandingkan usaha mereka dengan orang kota pada kebanyakan. Di kota, justru banyak anak yang putus sekolah, banyak yang menganggur dan banyak pula keluarga-keluarga yang tidak rukun karena masalah kekurangan ekonomi. Begitu berbedanya bila hal ini dibandingkan dengan kehidupan di desa, walau kekurangan seperti apapun warga yang tinggal di desa selalu mengutamakan pendidikan anak, itu terbukti dengan semua anak di Patihombo yang bersekolah walaupun orang tua mereka bisa dibilang kekurangan. Untuk masalah pengangguran, di desa banyak yang bisa dikerjakan asal ada niat dan ketekunan, sedangkan masalah ekonomi, warga biasanya hidup apa adanya, tidak bermewah-mewah, kalaupun ada masalah keuangan, banyak saudara yang siap membantu untu meringankan beban mereka. Itulah keuntungan hidup di desa bisa saling tolong menolong.

Beternak kambing merupakan salah satu cara untuk menabung selain menanam tanaman kayu. Hampir semua warga Patihombo mengembangkan jenis usaha ini, ada yang benar-benar memfokuskan jenis usaha pada beternak, adapula yang hanya sebagai sampingan saja. Dengan beternak kambing, mereka bisa mengantisipasi adanya kebutuhan mendadak seperti kebutuhan biaya pendidikan anak dan biaya lain yang besar. Jenis kambing yang mereka kembangkan adalah kambing PE (peranakan etawa). “Sistem peternakan yang saya lakukan adalah dengan memberi makan cukup, menjaga kesehatan, dan menjaga kebersihan kandangnya” kata Bapak Wakidi yang merupakan salah satu petani yang beternak kambing.

Ada banyak hal yang bisa dibanggakan dari dusun Patihombo, baik itu kekayaan alam ataupun ramah tamah penduduknya. Namun, ada hal yang membuat kita sedih bila mengingatnya, hal itu adalah semakin sedikitnya anak muda yang tinggal di rumah dan mengembangkan dusunnya. Kebanyakan dari mereka memilih untuk merantau. Entah itu sebagai karyawan, pramuniaga atau bahkan hanya sebagai buruh. Pemikiran mereka begitu sempit sehingga tidak pernah terpikirkan untuk membangun desanya dan hidup darinya.

Padahal, bila dilihat kembali, begitu banyak hal yang bisa dikembangkan. Seperti yang orangtua mereka lakukan dahulu, membesarkan mereka dari hasil alam. Seperti yang dikatakan Bapak Wakidi, “Saya sebenarnya tidak setuju bila anak muda banyak yang meninggalkan Patihombo karena nanti tidak akan ada generasi penerus yang meneruskan usaha kami para orangtua” demikian katanya. Melihat kenyataan tersebut, bagaimana peran kita sebagai kaum muda? Akankah kita akan melupakan tanah yang telah membesarkan kita?

Penulis: Lucia Windiarti

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Natas (Majalah Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas Universitas Sanata Dharma, Edisi Januari-Mei 2009 dalam rubrik “Catatan Sang Jurnalis”, halaman 39-41.

 

3 Responses to “”

  1. thomas Says:

    tulisan sdh runtut. Sebaiknya kirim ke Kompas, majalah Hidup, atau majalah Utusan, untuk uji kemampuan. Selamat berkarya!

  2. windiarti Says:

    iya mas, terima kasih. kpn2 klo ada tulisan baru, aku kirim. salam balik dari bapak

  3. Thomas Says:

    Tulisan yang bagus. Saya juga almamater USD..bangga jadi almamater USD

    salam

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/04/12/p-s-i-love-you/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s