Windiarti’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Indahnya Sepanjang Jalan ke Goa Maria Lawangsih (Stasi Pelem Dukuh) April 7, 2010

Indahnya Sepanjang Jalan ke Goa Maria Lawangsih

(Stasi Pelem Dukuh)


Kebanyakan orang yang sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, biasanya beranggapan bahwa tempat tujuan adalah segalanya. Apalagi bila menuju ke sebuah tempat baru, dimana mereka hanya mendengar cerita dari orang lain. Tentu saja semua bayangan tertuju pada tempat tujuan, tak terpikir sedikitpun akan bagaimana menariknya perjalanan yang akan dilalui sampai ke tujuan. Tapi siapa menyangka bila pemandangan sepanjang perjalanan merupakan daya tarik lain yang luar biasa untuk dinikmati?

Kita akan menemukan jawabnya bila kita mengunjungi Goa Maria Lawangsih dan Pangiloning Leres yang terletak di stasi Pelem dukuh. Di sepanjang jalan menuju ke sana, kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang begitu mempesona: hamparan petak sawah yang luas, barisan pegunungan yang elok, tebing-tebing yang berdiri kokoh, hijaunya ladang warga, kota Yogyakarta yang tampak bak miniatur dalam kaca, pantai selatan yang tampak biru dari kejauhan, indahnya kerlap-kerlip lampu bila malam hari juga tampak dari sana. Sensasi perjalanannya memang masih kalah memompa adrenalin bila dibandingkan dengan menaiki roller coster, namun sudah cukup untuk memberikan pengalaman baru yaitu jalan yang berkelok-belok naik maupun turun. Itu baru sebagian keindahan saja, masih banyak lagi keindahan alam yang akan kita saksikan dan rasakan ketika kita berkunjung ke sana.

Dari kota Yogyakarta, perjalanan memerlukan waktu perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Menembus ramainya jalan Godean yang mulai dilirik para pengusaha untuk membuka berbagai usaha yang berjajar rapi sepanjang jalan, kita akan sampai di daerah Kenteng. Seperti yang kita ketahui, daerah Kenteng dilalui oleh Sungai Progo yang begitu tersohor hingga diabadikan menjadi nama daerah. Sedikit mengingatkan saja, bila di sebelah timur Sungai progo daerahnya bernama Wetan Progo, sedangkan bila berada di sebelah barat sungai Progo, daerahnya dinamakan Kulon Progo.

Sungai Progo cukup besar, sehingga membelah antara Kulon Progo dengan Wetan Progo. Di atas sungai progo dibangun jembatan yang menghubungkan antara Kulon Progo dengan Wetan Progo, ya, jembatan itulah yang akan kita lewati ketika menuju ke Lawangsih dan Pangiloning Leres. Dari jembatan itu, kita bisa menyaksikan tenangnya aliran sungai Progo yang nantinya akan bermuara ke laut. Di sanalah banyak orang menghabiskan waktu ketika sore hari untuk sekedar berkumpul bersama teman-teman, maupun sendiri.

Bila perut terasa lapar, kita bisa mencicipi makanan yang cukup terkenal di perbatasan Kulon Progo dengan Wetan Progo, yaitu tongseng kambing Ngapak, letaknya persis sebelum sungai Progo, yaitu di sebelah kiri jalan. Cita rasanya yang tak diragukan kelezatannya membuat warung tongseng ini ramai dikunjungi pelanggan setiap harinya. Baik itu penduduk setempat, maupun pendatang yang hanya singgah melepaskan lelah. Hampir setiap saat selalu saja ada motor ataupun mobil yang parkir di depan warung, menandakan banyaknya pelanggan yang setia menikmati enaknya tongseng kambing Ngapak.

Beranjak sedikit dari sungai Progo, kita akan menemukan sebuah perempatan. Perempatan kenteng, begitu orang biasa menyebutnya. Dari perempatan inilah petualangan untuk menyaksikan agungnya karya Tuhan melalui lukisan nyata yang terwujud pada alam pegunungan mulai bisa kita lihat. Dari sana, ada dua jalan yang bisa kita lewati bila kita ingin menuju ke Lawangsih dan Pangiloning Leres. Jalan pertama adalah dari perempatan kenteng lurus, kita akan melewati tanjakan Mbibis yang berkelok-kelok dan tebing yang cukup tinggi yang terhampar di depan mata. Sedangkan, jalan kedua sering saya namakan jalan kecamatan, karena melewati kecamatam Girimulyo adalah perempatan kenteng belok kiri.

Berikut ini akan saya tuliskan pemandangan apa yang akan anda saksikan bila memilih jalan tersebut.

Rute pertama

Rute pertama yaitu dari perempatan kenteng, lurus, melewati tanjakan yang cukup tinggi yaitu tanjakan Mbibis. Pemandangan pertama yang akan banyak ditemui adalah hamparan sawah yang menguning. Ada beberapa sawah yang akan kita lewati bila melalui rute ini, sawah pertama tampak biasa saja, sedangkan dari sawah kedua, dan seterusnya pemandangannya cukup menawan untuk kita saksikan. Cobalah berhenti sejenak untuk menyaksikan hamparan sawah yang mulai menguningitu. Melihatnya mengingatkan kita pada hamparan permadani berwarna hijau kekuningan yang sangat mewah.

Barisan perbukitan juga melatar belakangi pemandangan sawah tersebut. Melihat ke segala arah membuat kita melihat barisan perbukitan dan gunung yang tampak seperti pagar yang melingkar. Mungkin Tuhan mencipta itu semua untuk melindungi daerah Kulon Progo dari segala macam bahaya yang mungkin sewaktu-waktu datang. Gunung Merapi juga tak kalah menariknya bila dibanding gunung lain. Bila kita beruntung, kita bisa melihat gunung Merapi seutuhnya. Tetapi, bila cuaca sedang sedikit mendung, gunung Merapi sepertinya malu-malu untuk menampakkan diri seutuhnya, bagaikan gadis remaja yang bertemu dengan pria pujaannya sehingga kadang tertutup awan tipis.

Beranjak dari sawah tersebut kita akan melewati beberapa jalan menanjak. Diantara tanjakan itu, ada dua tanjakan yang cukup tinggi. Mungkin bila kendaraan yang tidak terbiasa dengan medan yang menanjak akan sedikit kesulitan. Namun kelebihan dari rute ini justru terletak pada tanjakan itu. Dari tanjakan itu kita bisa melihat tebing-tebing berbatu hitam dan jurang yang agak dalam menghijau karena ditumbuhi rimbunnya tanaman baik yang berkayu keras maupun rumput-rumput kecil. Bila duduk sejenak di sana, kita akan merasakan indahnya alam yang menggambarkan keceriaan. Semilir angin membawa diri untuk menuju kesejukan, dari tepi jalan itu terlihat hamparan yang luas penuh dengan keindahan, seolah terdapat kedamaian dibawah sana, terlihat beberapa atap merah dibawah sana, pertanda ada kehidupan di bawah sana, ya itu merupakan rumah warga. Tepat di tengah tanjakan ke dua terdapat pohon beringin besar, dibawahnya terdapat sungai kecil yang dimanfaatkan utuk mencukupi kebutuhan hidup warga sekitar.

Sejauh mata memandang, nun jauh di seberang sana, warna biru dan hijau mendominasi pemandangan dari sisi jalan ini. Warna biru adalah langit, sedangkan warna hijau adalah tumbuhan yang tumbuh di pegunungan-pegunungan itu. Melihat pemandangan dari sini mengingatkan saya akan lukisan pelukis terkenal, gambaran keindahan alam terlukis nyata di hadapan mata. Semuanya terlihat dari sini, perbukitan itu terlihat saling berdesakan, di samping bukit ada bukit, di belakangnya juga ada bukit, sedangkan di tengah-tengahnya ada sawah yang cukup luas. Di pematang sawah kita akan menjumpai tanaman jagung yang berjajar rapi, terdapat pula gubug tempat beristirahat, benar-benar khayalan yang menjadi kenyataan.

Rute 2

Rute ini lebih mudah bila dibandingkan rute 1. Meskipun jalannya relatif menanjak, tetapi tidak terlalu tinggi. Kita akan melewati pom bensin Kenteng, gereja Nanggulan, lurus terus sampai bertemu pertigaan, kita belok kanan melewati sebuah jembatan di mana sebuah sungai kecil dan hamparan petak sawah terhampar di bawah kita. Bagi yang belum terbiasa naik gunung, biasanya memilih rute ini. Bila melalui rute ini, kita akan menemukan pemandangan alam yang indah, meskipun menurut saya masih kalah bila dibandingkan dengan pemandangan yang akan kita temui bila kita melewati rute 1.

Jurang yang akan kita temui tidaklah terlalu curam, sehingga bingkai hijau di seberang jurang dapat terlihat dengan jelas. Tepat di seberang jalan , bila menengok ke kanan ataupun kiri, kita akan melihat hijaunya sawah dengan gubug kecil di tengah-tengahnya, gubug itu adalah tempat berteduh petani yang kelelahan setelah bekerja di sawah. Yang tak kalah menarik untuk saya adalah tumbuhnya berwarna-warni bunga liar di sepanjang jalan, entah siapa yang menanamnya. Walaupun bunga itu adalah bunga liar, tetapi sangat menarik untuk dilihat.

Cobalah menengok ke utara, gunung Merapi yang menjulang itu hanya tampak bagian puncaknya saja. Semakin jauh naik perjalanan kita, semakin terlihat utuhnya gunung Merapi di kejauhan. Di beberapa sisi jalan, kota Yogyakarta terlihat sangat kecil. Pemandangan kota Yogyakarta akan sangat berbeda bila malam hari, cobalah lihat ada ribuan bintang berwarna-warni berkelap-kelip dari arah timur, itulah kota Yogyakarta bila dilihat pada malam hari. Dari goa Maria Pangiloning Leres kita juga bisa menemukan pemandangan kerlap-kerlip kota Yogyakarta ini utuh, karena goa Maria Pangiloning Leres berada di puncak bukit.

Pertemuan daridua jalan ini adalah di pertigaan Jonggrangan, dari sana sudah banyak penunjuk jalan yang menunjukkan jalan bagi peziarah untuk ke Lawangsih dan Pangiloning Leres. Membutuhkan waktu 15 menit hingga sampai ke tujuan. Bila sampai di Jonggrangan, udara sudah mulai berbeda daripada di Kenteng, walaupun matahari bersinar cerah dan langit biru bersih, berjalan di tengah pegunungan ini sungguh dingin rasanya. Mungkin letak pegunungan yang terlalu tinggi sehingga sinar mentari bahkan tak mampu menyentuh jalan raya di dasar lembah sehingga membuat udara dingin dan menyegarkan. Udara di desa memang belum tercemar, apalagi bila angin bertiup sepoi-sepoi, hawa sejuknya merasuk ke dalam sukma.

Demikianlah gambaran yang bisa saya ungkapkan mengenai pemandangan alam yang akan dijumpai bila berkunjung ke stasi Pelem Dukuh, tempat terdapatnya goa Maria Lawangsih dan Pangiloning Leres. Satu hal yang perlu saya tekankan adalah jalan di desa tidak semudah di kota, rutenya yang naik turun memerlukan kecermatan dan kehati-hatian lebih. Tapi semuanya tentu akan terbayar ketika kita bertemu dengan bunda maria di dalam doa di sana. Selamat mencoba.

 

11 Responses to “Indahnya Sepanjang Jalan ke Goa Maria Lawangsih (Stasi Pelem Dukuh)”

  1. thomas Says:

    tulisan yang indah.
    perlu diusulkan ke stasi: pemginapan untuk penziarah.

  2. agustinus pondaag Says:

    thanks infonya…sangat membantu bagi mereka2 yg ingin ke GML tetapi belum tau rute perjalanannya…God bless you….

  3. windiarti Says:

    itu rutenya sudah ada. maaf kemarin belu ada karena keterbatasan saya mendapat rute

  4. dewi Says:

    Rute 3 dari Pengasih, sampai pertigaan Joresan ambil kiri, sampai pertigaan ngRingin ambil kiri lagi, ikuti jalan itu ketemu Jonkgrangan deh, hhe…

  5. decky Says:

    itu lewat deket rumahq

  6. Cecilia Vetty Says:

    Jumat malam 5 jan’13 , aku dan suami berdoa + minum air asli goa yg sdh diberkati, di GM Lawangsih. Sungguh indahhhh Ciptaan Tuhan. Kami menginap di rmh siwo nya suami dekat sekali dgn GM Lawangsih . Jalannya ngeri, tp indahhhh lan suijuuuuk…

  7. tri Says:

    mbak, aku numpang ngopi peta ya, lingkunganku mau ziarek kesana, tks

  8. steffi Says:

    mohon tanya mbak, kira2 di dekat disitu ada atau tidak ya desa untuk di jadikan tempat live-in???
    terima kasih🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s