Windiarti’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ekspedisi Goa Maria 2009 February 1, 2010

Filed under: goa maria di DIY — windiarti @ 1:32 am

Gua Maria Lawangsih


Satu lagi kekayaan alam yang ada di Stasi Pelem Dukuh yang selama ini tidak banyak diperhatikan orang, kekayaan itu adalah Gua Maria Lawangsih. Gua ini terletak di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, kecamatan Girimulyo, Kabubaten Kulon Progo, sekitar 35 km dari kota Yogyakarta.

Gua Maria Lawangsih adalah Gua Maria yang menjadi sebuah kesatuan dari Gua Maria Pangiloning Leres, karena berada di stasi yang sama, yaitu stasi Pelem Dukuh.  Letak gua ini tidak terlalu jauh dari Gua Maria Pangiloning Leres, hanya saja posisinya yang agak jauh dari jalan utama membuatnya tidak banyak dikenal masyarakat.  Gua alami ini bisa dikatakan memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan Gua Maria Pangiloning Leres yang juga terdapat di Stasi Pelem Dukuh. Beberapa kelebihan itu adalah bentuknya yang besar dan memiliki sumber mata air alami yang tidak dimiliki oleh Goa Maria Pangiloning leres.

Gua ini masih alami, susunan bebatuan gua adalah  murni ciptaan Tuhan tanpa campur tangan manusia.

Seperti yang kita ketahui, tidak banyak tempat doa yang berupa goa yang merupakan gua alami. Kalau pun ada, tidak sebanyak goa buatan, hal inilah yang membuat Goa lawangsih menjadi istimewa.

Gua ini cukup besar, pada bagian atas gua terdapat beberapa tumbuhan yang tumbuh dengan suburnya, lengkap dengan sungai kecil yang mengalir di dalam gua dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah. Kesan pertama ketika kita datang adalah suasana hening yang menyejukkan hati, jauh dari keramaian. Suara gemericik air, kicauan burung, tiupan angin, udara yang sejuk akan membuat kita semakin mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Suasana ini lah yang membawa kita pada suatu situasi yang sangat mendukung bila ingin memanjatkan doa kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria.

Sejauh mata memandang, kita akan menyaksikan rindangnya pohon dan hamparan sawah yang menghijau. Sesekali kicau burung yang bernyanyi memanjatkan syukur kepada Sang Pencipta juga terdengar. Di bawah gua, terdapat sungai yang mengalir membelah dusun. Jauh dari kesan sungai di kota pada umumnya, karena sungai ini begitu jernih walaupun telah melewati luasnya hamparan ladang warga. Air ini tidak biasa digunakan untuk minum, tetapi digunakan untuk kebutuhan pengairan sawah penduduk. Walaupun terkadang dulunya bila sumber-sumber air sudah mengering, sungai ini digunakan untuk mencukupi semua kebutuhan warga.

Salah satu fasilitas yang sudah dimiliki oleh gua lawangsih adalah adanya kamar mandi untuk dimanfaatkan oleh  penduduk maupun peziarah. Air tersebut adalah air yang berasal  dari dalam gua yang jernih. Air dari kamar mnandi tersebut biasa digunakan untuk minum ataupun memenuhi semua kebutuhan hidup penduduk sekitar. Jadi sungai kecil di bawah gua yang dulunya dipergunakan untuk mandi, Sekarang dikhususkan untuk mengairi sawah.

Gua ini sebelumnya adalah milik Ketua Stasi Pelem Dukuh yaitu Bapak Th. Supino yang kemudian diberikan hak pakainya kepada Gereja sebagai tempat berdoa. Pembangunan gua alami ini menjadi tempat berdoa adalah atas inisiatif romo paroki pada waktu ini yaitu Romo Slamet Pr. Selain itu, keinginan umat untuk memiliki tempat berdoa di tempat terbuka dan memiliki sumber air, begitu besar, sehingga membuat hibah Goa Maria dari ketua stasi menjadi suatu pilihan yang menarik untuk ditindak lanjuti. Langkah yang diambil pihak stasi adalah dengan dibangunnya goa tersebut menjadi suatu tempat berdoa yang diinginkan umat.

“Pembangunan gua ini dimaksudkan untuk melengkapi adanya Gua Maria Pangiloning Leres yang terletak di atas bukit” ungkap Ibu Ngatilah. Saat ini, Gua maria Lawaningsih belum selesai dikerjakan pembangunannya. “Warga Pelem Dukuh sendiri yang bergotong royong meratakan pelataran gua agar bisa dijadikan tempat berdoa. Pembangunan telah dimulai pada bulan September 2009.

Kini, sudah dibangun sebuah altar yang teduh karena sudah berupa bangunan beratap dan juga sebuah pendopo kecil yang sederhana untuk berteduh bila panas maupun hujan. Pendopo ini terletak di dekat tangga masuk areal gua, meskipun sederhana, tetapi sangat bermanfaat bila ada peziarah yang ingin beristirahat. Tentu saja pendopo ini akan disempurnakan nantinya, sambil menunggu adanya dana. Untuk saat ini,  pendopo sederhana itu sudah lebih dari cukup.  Selain itu, ruang depan gua dan lorong di sisi  gua yang cukup luas juga bisa dimanfaatkan untuk berteduh karena terlindung oleh bebatuan gua yang indah. “Faktor dana adalah salah satu kendalanya meskipun telah dibantu oleh sumbangan dana dari para donatur dan dana dari umat sendiri” tambah Bapak Wakidi.

Misa pertama pada gua ini telah dilakukan pada bulan Desember tahun 2009. Tempatnya yang luas membuat umat tidak perlu terlalu berdesakan. Letaknya yang berada di dekat perkebunan warga menambah asrinya Gua Maria ini. Rencananya dari Gua Maria Lawangsih akan dibangun tempat untuk jalan salib menuju Puncak Golgota yaitu Gua Maria Pangiloning Leres yang teletak di puncak bukit, disanalah jalan salib akan berakhir.

 

12 Responses to “Ekspedisi Goa Maria 2009”

  1. Kemarin habis ke Gua Lawangsih, memang cukup bagus. keindahan alamnya dan bebatuan = mantab. Selamat buat umat sekitar Lawangsih, semoga bisa menjadi berkah

  2. Heribertus Supomo,S.Pd Says:

    Goa maria ini anyar gres aku wis pernah sowan Bunda waktu masih belum jadi kira – kira setengah tahun yll


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s