Windiarti’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Ekspedisi Goa Maria 2009 May 29, 2009

Filed under: goa maria di DIY — windiarti @ 9:09 am


Goa Maria Pangiloning Leres

Img00054

Mengingat tempatnya yang jauh dan terpencil dari kota Yogyakarta, wajar bila Goa Maria Pangiloning Leres tidak banyak dikenal oleh masyarakat di luar Stasi Pelem Dukuh. Medan yang cukup yaitu jalan turun naik yang agak curam dan rusaknya sebagian jalan menjadi alasan sedikit orang berkunjung ke Goa Maria Pangiloning Leres. Padahal, ada banyak hal-hal yang menarik terdapat di sana. Hal yang hanya terdapat di Stasi Pelem Dukuh, Stasi yang kaya akan pemandangan alam yang asri dan goa alami nan indah.

Goa Maria Pangiloning Leres adalah salah satu tempat ziarah bagi umat Katholik yang terdapat di perbukitan Menoreh. Goa Maria ini terletak di Desa Purwosari, tepatnya di Stasi Santa Maria Fatima Pelem Dukuh, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, kira-kira 35 km dari Kota Yogyakarta. Stasi Santa Maria Fatima Pelem Dukuh sendiri adalah bagian dari Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan. Paroki Nanggulan merupakan sebuah paroki besar yang membawahi 4 wilayah dengan 19 lingkungan kecil di dalamnya, juga satu stasi yang direncanakan akan segera menjadi sebuah paroki sendiri yaitu Stasi Pelem Dukuh.

Pada mulanya, sebelum dijadikan tempat berdoa, Goa Maria ini merupakan sebuah goa alami biasa yang terletak di atas bukit. Letaknya kebetulan berada di atas gereja Santa Maria Fatima Pelem Dukuh. Menurut Bapak Wakidi, seksi Katekese di Stasi Pelem Dukuh, ada sebuah legenda yang tercipta dari goa alami ini. Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda.

Pada perkembangan iman umat katholik di stasi pelem dukuh yang semakin meningkat, (perlu diketahui bahwa hampir semua warga di daerah ini memeluk agama katholik) semakin besar pula keinginan untuk mendekatkan diri pada Tuhan melalui Bunda Maria. Keinginan inilah yang membuat Romo paroki pada waktu itu yaitu Romo Adi Wardoyo Pr. dan Romo Suharto Widodo Pr. berinisiatif menjadikan goa di atas bukit tersebut menjadi sebuah tempat ziarah umat Katholik. Pertimbangan lain para romo tersebut adalah jauhnya tempat ziarah lain bagi umat Katholik di Pelem Dukuh. Inisiatif ini disambut baik oleh warga, dan jadilah sebuah tempat ziarah yang terdapat di Stasi Pelem Dukuh.

Nama Pangiloning Leres sendiri di ambil dari bentuk Goa Maria yang seperti cermin (pengilon), sedangkan bila digabungkan antara nama “pengilon” yang berarti cermin dan “leres” yang berarti benar menjadikan nama goa maria tersebut memiliki makna yang mendalam yaitu tempat bercermin atas suatu kebenaran. Goa maria pangiloning leres diberkati pertama kali oleh Romo Adi Wardoyo sekitar tahun 1994 dan kemudia diberkati oleh Uskup Agung semarang yaitu Uskup Mgr. Ignasius Suharyo. Pemberkatan ini dilakukan ketika beliau memberikan Sakramen Krisma pada tahun 1998.

“Bila dilihat dari bawah, Goa Maria ini nampak seperti bahtera. Bahtera Nabi Nuh yang pada zaman dahulu telah menyelamatkan manusia dan mahkluk-makhluk lainnya di atas bumi dari air bah” ungkap bapak Wakidi. Bentuk bahtera ini kemudian semakin disempurnakan dengan adanya patung Kristus Raja Semesta Alam sebagai nahkoda bahtera tersebut. Patung ini adalah sumbangan dari romo paroki pada masa itu yaitu Romo Antonius Tri Wahyono Pr. Sekarang, lengkap sudah penampilan bahtera tersebut, ada Tuhan Yesus sebagai nahkoda yang selalu memberkati semua umat Katholik di Stasi Pelem Dukuh.

Img00050


Pembangunan terbaru untuk menyempurnakan tata ruang dari Goa Maria ini adalah pembangunan sebuah pendopo sebagai tempat berdoa dan digunakan sebagai altar bila hendak melaksanakan Misa. Adapula sebuah Goa Maria baru yaitu Goa Maria Lawaningsih yang dibangun sebagai tempat berziarah umat katholik. “Pembangunan ini dibiayai oleh Pak Erik, seorang donatur dari Jakarta dan swadaya dari umat Pelem Dukuh sendiri” ungkap Ibu Ngatilah yang juga menjabat sebagai seksi liturgi di Stasi Pelem Dukuh. Kelengkapan sarana prasarana yang melengkapi penampilan Goa Maria ini membuat semakin khusuknya kita dalam berdoa dan memuliakan tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Gereja Santa Maria Fatima

Img00033

Dari luar, Gereja Santa Perawan Maria nampak seperti Gereja kebanyakan. Sekilas tak akan terlihat keistimewaannya bila dibandingkan dengan Gereja lain. Bila kita melihat segi arsitekturnya, mungkin saja akan kalah bila dibandingkan dengan gereja yang terdapat di kota besar lainnya. Namun, bila kita masuk ke dalam Gereja kita akan melihat beberapa lukisan yang indah dimana Gerbang Kerajaan Surga tergambar indah di dinding. Adapula kisah pembangunan yang penuh perjuangan karena Gereja sulit mendapatkan tanah pada waktu itu.

Menurut Bapak Wakidi, awal berkembangnya iman Kristiani di Stasi pelem Dukuh adalah pada tahun 1929. Benih iman di Pelem Dukuh  dimulai dengan dibaptisnya beberapa orang di daerah Dangsambuh oleh Romo Prennthaler, S.J., dan Romo Satiman, S.J. Pada awalnya, misa dilakukan di rumah Bapak Martowiharjo yang kebetulan adalah mertua dari Bapak Wakidi. Misa pertama yang dilakukan di wilayah Pelem adalah misa yang sederhana karena rumah yang digunakan juga sangat sederhana. Seiring bertambahnya umat, Romo Prennthaler, S.J., memutuskan untuk pindah ke rumah Bapak Paulus Kromo Martono yaitu pada tahun 1948. Tempat ibadah berpindah dari daerah Pelem ke Dukuh yaitu di rumah Bapak Paulus Kromo Martono. Hal ini disebabkan karena semakin banyak orang yang dibaptis dari sekitar tempat itu. Pertambahan umat banyak terjadi di Dusun Patihombo dan Jatiroto.
Sekian lama menumpang di rumah umat sebagai tempat beribadah, membuat umat ingin memiliki bangunan gereja sendiri. Romo yang mengusahakan pembelian tanah adalah Romo Joyosewoyo. Awalnya, Romo dan umat memutuskan untuk membeli tanah seluas 1000 meter di daerah Sabrang Kidul sebagai Gereja. Kurangnya perhitungan membuat pembangunan gereja tidak bisa dilanjutkan, hal ini dikarenakan tanah yang dibeli oleh Gereja adalah tanah bermasalah atau yang biasa disebut tanah Pulosroyo. Gagalnya pembangunan tak menyurutkan niat umat, tak lama berselang mereka memilih tanah di daerah Munggang Dowo. Namun, pembangunannya pun tak diteruskan entah karena alasan apa. Sementara umat sudah mulai meratakan tanah di sana.
Pada akhirnya, Tuhan pun memberkati umat Pelem Dukuh untuk mendapatkan tanah sebagai Gereja, tempat umatnya berdoa memuliakan namanya. Pada masa kepemimpinan Romo Santo Seputro dipilihlah tempat mendirikan kapel yang lebih permanen yaitu dengan menggunakan tanah OO (tanah Oro-oro), artinya tanah pangonan yaitu tanah yang pada saat rajangan (pembagian tanah) tidak diminati oleh rakyat. Tanah ini merupakan tanah yang dimiliki oleh kasultanan, dengan status Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai oleh Gereja. Terpilihnya tempat tersebut menjadikan umat memiliki gereja tersendiri untuk merayakan Ekaristi yang pada waktu itu dilakukan setiap 35 hari sekali.

Renovasi pertama Gereja Santa Maria Fatima Pelem Dukuh dilakukan pada tahun 1986. Pada waktu itu Romo paroki yang merencanakan renovasi besar itu adalah Romo Adi Wardoyo, Pr. Bentuk joglo ditinggalkan dan diubah menjadi bentuk kampung. Bangunan hampir mendekati gereja-gereja barat dengan menempatkan lonceng dibagian depan gereja. Renovasi kedua dilakukan pada tahun 2002 yaitu dengan memperluas Gereja dan meninggikan atap. Bentuk altar juga agak ditinggikan, lantai altar diganti menjadi keramik dan ditambahkan pula balkon guna menampung banyaknya umat yang datang. Tempat pengakuan dosa juga diperbaiki agar nampak lebih indah.

Img00040

Arsitektur yang digunakan oleh gereja baru ini lebih menarik daripada sebelumnya. Penataan batu-batu alami di sisi barat gereja menambah asrinya gereja ini. Pemertahanan bentuk alami batu kapur tanpa tembok ini adalah sesuai dengan anjuran Romo Yb. Mangun Wijaya yang merupakan arsitek handal. Pada waktu renovasi terakhir yaitu pada tahun 2002, ditambahkan lukisan-lukisan yang menggambarkan kerajaan surga di belakang altar, lukisan rusa dengan hamparan rumput yang luas menghijau juga terpampang di sebelah kiri altar, di belakang patung Bunda maria.

Keistimewaan Gereja ini ditambah dengan adanya dua Goa Maria alami yang terdapat disekeliling Gereja. Bila dibandingkan dengan tempat lain, tidak selalu setiap Gereja memiliki kekayaan tempat berdoa seperti di stasi kami, Stasi Pelem Dukuh. Banyaknya umat yang semakin bertambah setiap tahunnya membuat semakin lengkapnya cita-cita para pendahulu yang sudah merintis iman yang ada di daerah Pelem Dukuh dan sekitarnya.

Sendang Sono

Img00095

Goa Maria Sendang Sono merupakan Goa Maria yang cukup diperhitungkan di indonesia. Goa Maria ini terletak di perbukitan menoreh, tepatnya di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Sebutan Lourdesnya Indonesia membuatnya menjadi salah satu Goa maria yang banyak dikunjungi oleh para peziarah yang datang dengan berbagai permohonan melalui Bunda maria.

Sebelum tempat itu dijadikan sebagai Goa Maria, tempat ini terbilang mistis, menurut cerita dari Bapak Pawiro Sumito Salah seorang pegawai kebersihan di sana, dahulu kala pohon sono dihuni oleh sepasang makhluk halus yaitu Den bagus Sanijo dan Dewi Lantam Sari. Dua makhluk halus inilah yang membuat masyarakat takut untuk datang di tempat ini. Namun, setelah diberkati oleh Romo Prennthaler, S.J., tempat ini tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan karena kedua makhluk halus tersebut telah diusir pergi.

Cerita mengenai Sendang sono tak terlepas dari cerita mengenai tokoh agama dari Kalibawang yaitu Bapak Barnabas Sarikromo. Berkat jasanya, banyak warga Kalibawang dan sekitarnya mengimani iman akan Yesus kristus. Ia juga beperan aktif dalam pembangunan goa ini, ia dan murid-muridnya yang mengumpulkan bahan-bahan pembuat gua yaitu batu kapur. Sendang Sono diberkati pertama kali yaitu pada tanggal 8 Desember 1929 oleh Romo Prennthaler, S. J., yaitu pada perayaan 75 tahun peresmian Ibunda Maria tak ternoda. Semenjak saat itu, Sendang Sono resmi menjadi tempat ziarah bagi umat Kristiani.

Bila kita melihat arsitektur lingkungan dan bangunan disekitar Goa Maria, tentu kita akan merasa takjub akan keindahan penataan lingkungannya. Tak mengherankan memang karena sang arsitek Goa Maria ini adalah Romo Yb. Mangun Wijaya, seorang arsitek yang handal. Berkat kepandaiannya dalam menata Goa Maria Sendang Sono, ia mendapatkan penghargaan di bidang arsitektur yaitu Piagam Agam Khan Award.

Sendang Sono terdiri atas beberapa bangunan, antara lain Kapel Para Rasul, aula, altar, Goa Maria, tempat jalan salib, dan masih banyak lagi bangunan lain. Keasrian Sendang Sono tampak terjaga dengan baik dengan dipertahankannya pohon sono yang terdapat di dekat goa. Adapula sumber mata air pembaptisan pertama yang dilakukan pada oleh Romo Van Lith tetap terjaga dengan baik. Air itu dialirkan ke dalam kran-kran air yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh peziarah untuk digunakan sebagai air suci.

Penataan dan perawatan yang baik membuat pengunjung menjadi merasa nyaman dalam berdoa, di antaranya adalah Bapak Jusuf Christanto yang merupakan seorang penulis. Dia sering datang ke Sendang Sono dan meminta berkat atas segala usahanya. “Semenjak saya sering dating kesini, hidup saya menjadi menjadi semakin damai dan usaha saya juga terberkati” ungkapnya. Dia juga sering mendapatkan ide akan tulisannya dari kebiasaanya berdoa di Sendang Sono.

Saat ini, pemeliharaan terhadap Sendang Sono tetap terjaga, ada 4 pegawai yang dengan setia membersihkan lingkungan Goa maria ini. Bapak Pawiro Sumito adalah salah satu di antaranya. Saat peziarah ramai seperti bulan Mei dan Oktober, pekerjaan mereka menjadi semakin bertambah. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dalam rangka menyambut tamu-tamu tuhan yang akan berdoa memohon berkat padanya.

Berkat Bagi Warga Sekitar

Foto055

Sendang Sono bukan hanya memberikan berkat bagi para peziarah, tetapi juga memberikan berkat berupa rejeki bagi warga sekitar Sendang Sono. Banyak di antara warga sekitar yang memanfaatkan kunjungan peziarah dengan membuka toko, baik itu toko makanan ataupun perlengkapan beroa.

Bila kita memasuki kawasan Sendang Sono, bukanlah hal yang aneh lagi bila kita melihat berrbagai pedagang memenuhi jalan masuk. Ada berbagai macam dagangan yang ditawarkan, mulai dari lilin, rosario dan masih banyak lagi. Bagi mereka adanya Sendang Sono telah memberikan mereka pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan mereka.

Salah satu penjual itu adalah Yanto dia berdagang makanan berupa bakso dan tongseng. Dia adalah cucu dari pemilik warung tersebut, pemilik warung sendiri adalah kakeknya yang telah berdagang di Sendang Sono sejak 30 tahun lalu. “Pekerjaan ini hanyalah sampingan, pekerjaan utama kami adalah bertani palawija. Jadi jika pengunjung sendanhgsono sedang sepi, saya dan keluarga saya beralih pada profesi awal yaitu sebagai petani” jelasnya ketika saya menanyakan pekerjaan mereka bila peziarah Sendang Sono sedang sepi.

Lain lagi dengan Suradi salah seorang penjual Rosario, dia mengaku berjualan bila masa pengunjung sedang ramai. “Pada bulan-bulan biasa selain bulan Mei dan Oktober, saya memilih berjualan pada hari sabtu Minggu saja. Hari lain saya gunakan untuk menekuni pekerjaan utama saya yaitu sebagai petani” jelasnya. Banyak pula ibu-ibu tua yang menjajakan dagangannya berupa makanan khas dari daerah Kalibawang, antara lain klethik, kacang, dan banyak makanan lain. Begitu banyaknya penjual membuat bingung pengunjung untuk memutuskan tempat mana yang akan mereka pilih sebagai tempat berbelanja.

Adapula seorang ibu yang bertugas membersihkan lilin bekas yang telah meleleh di atas batu juga mendapatkan rejeki. Pekerjaannya membersihkan bekas lilin itu mendatangkan rejeki pula baginya karena lilin tersebut akan dijual dan ia mendapatkan penghasilan dari lilin tersebut. Sebuah pekerjaan yang mulia dimana tidak semua orang mau dan rela mengrjakannya tanpa dibayar.

Tukang parkir pun tak kalah untungnya, hanya dengan menjaga parkiran mereka mendapatkan penghasian untuk menyambung kehidupan keluaga. Biaya parkir sebesar Rp. 1000,00 bisa menjadi penghasilan yang besar karena pengunjung Goa Maria pada bulan-bulan mei dan Oktober sangat ramai. Demikianlah ternyata dengan adanya Goa Maria, tak hanya iman umat yang semakin berkembang, tetapi penghidupan warga sekitar Sendang Sono pun terbantu. Jadi, Sendang Sono bisa dikatakan menjadi tempat yang penuh berkat bagi banyak orang.

Mata Air Pembaptisan Pertama

Foto036

Mata air pembaptisan pertama yang dilakukan oleh Romo Van Lith kini menjadi salah satu daya tarik di Sendang Sono. Kalaupun di tempat lain ada, tak akan ada yang menyamai nilai sejarah mata air ini. Mata air yang memberkati benih-benih iman di daerah Kalibawang dan sekitarmya.

Pembaptisan pertama yang dilakukan oleh Romo Van Lith pada tahun 1904 terhadap 173 orang Katholik pertama merupakan peristiwa penting dari Sendang Sono. Mata air di bawah pohon sono itu menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan dari Sendang Sono. Pada mulanya mata air yang dilindungi oleh semak belukar ini menjadi suatu mata air suci yang banyak digunakan sampai sekarang.

Sekarang, kita bisa melihat mata air yang pada mulanya hanyalah mata air biasa itu menjadi sebuah sendang yang terawat dengan prasasti dan banyak ayat-ayat kitap suci yang tertulis di atasnya. Sendang tersebut masih bisa kita lihat airnya karena penutupnya adalah kaca yang tembus pandang.

Air dari sumber pembaptisan pertama itu sekarang banyak digunakan oleh para peziarah baik sebagai air suci maupun sebagai pembasuh muka yang kelelahan melalui perjalanan jauh. Seperti yang kita ketahui air tersebut adalah air yang terberkati. Jadi dengan adanya air tersebut kita bisa mendapatkan banyak berkat pula.

Goa Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih

Img00053


Satu lagi gua buatan yang terdapat di Yogyakarta, tepatnya di Jitar Pingitan. Goa ini adalah goa dengan sumber mata air alami. Bisa dikatakan goa ini adalah salah satu persembahan dari salah satu keluarga yang ada di daerah Jitar Pingitan, yaitu keluarga Purwowidono.

Kisah Goa Maria Ratu Perdamaian dimulai dangan kisah Bapak Purwowidono yang mengalami cobaan berat dalam hidupnya. Cobaan itu dirasakan berat karena anak pertama yang mereka kasihi yaitu Aloysius Arcahya Ariandana mengalami penyakit hydrocephalus atau pembengkakan pada kepala yang menyebabkannya lumpuh dan tidak bisa banyak beraktifitas sepanjang hidupnya.

Cobaan demi cobaan yang dialami keluarga Purwowidono ini membuat Bapak Purwowidono mempunyai keinginan untuk menyumbangkan tanahnya yang terletak di atas Sungai Progo untuk dijadikan Goa Maria. Tanah seluas 800 m itu disumbangkan pada gereja sebagai ucapan syukur atas berkat yang dikaruniakan tuhan kepadanya berupa penghiburan dan dukungan dari banyak saudara-saudaranya walaupun putra mereka tetap lumpuh.

Pembangunan awal Gua Maria ini melibatkan banyak umat di sekitar Jitar Pingitan, pembangunan ini dimulai pada tahun 1984. Dibentuk juga panitia pembangunan yang dimulai dengan membangun sendang, membuat goa sampai meletakkan patung Bunda Maria. Goa Maria ini diberkati pertama kali pada tanggal 8 September 1986 oleh JB. Mardi Kartono S. J. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1999. Pada masa renovasi tersebut, banyak sarana prasarana yang ditambah sehingga memperindah pemandangan. Baru setelah selesai direnovasi, Goa maria tersebut diberkati oleh Uskup Agung Semarang yaitu Mgr. Igr. Suharyo beserta penandatanganan prasasti.

Sekarang, bila kita berkunjung ke sana, kita akan mendapatkan kesejukan dari rindangnya pohon yang menaungi gua tersebut. Ditambah lagi dengan adanya aula Santo Aloysius yang membuat umat tidak perlu berpanas-panas lagi bila ingin berdoa. Aula santo Aloysius dibangun sebagai peringatan akan Aloysius Arcahya Ariandana putra Bapak Purwowidono yang memberikan warna dalam kelurga tersebut walaupun kini dia sudah meninggal akibat sakit stroke.

Semangat Aloysius yang tulus mencintai keluarganya memberikan kita suatu pelajaran akan rasa syukur atas semua yang telah kita miliki. Dengan segala kekurangannya, Aloysius tetap bisa membuat keluarganya tersenyum dan berbahagia, tanpa mengeluh akan keadaanya. Semangat menerima itulah yang harus ada dalam diri kita.

Lingkungan Sekitar Jatiningsih


Tak lengkap adanya suatu Goa maria tanpa adanya penjual alat-alat sebagai perlengkapan doa. Begitu juga di sekitar goa maria ratu perdamaian sendang jatiningsih. Memang tidak begitu banyak pedagang, tetapi bisa dikatakan cukup banyak bila ingin berbelanja segala perlengkapan doa.

Begitu memasuki areal parker kita sudah bisa melihat tiga pedagang yang menjajakan dagangannya. Pada umumnya mereka tidak hanya berdagang satu jenis barang saja. Sebagai contoh Mbah Mitro yang berjualan makanan dan perlengkapan doa. Dia telah berdagang di situ selama 5 tahun. “Bila pengunjung sedang sepi, saya memilih untuk berdagang pada hari Sabtu dan Minggu saja” ungkapnya.

Hal itu dapat dimaklumi mengingat goa ini terbilang lebih sepi bila dibandingkan dengan Sendang Sono. Walaupun tidak seramai Sendang Sono, tetapi banyak pula pengunjung yang berasal dari luar daeah Jitar Pingitan. Salah satunya adalah Deni, mahasiswa asal Yogyakarta yang berdoa disana bersama dengan kekasihnya. “Berdoa disini lebih dekat dari Yogyakarta, saya lebih sering datang ke sini bila dibandingkan dengan sendang sono yang terbilang jauh.

Adanya fasilitas yang memadai di sekitar Goa Maria ini membuat peziarah menjadi lebih nyaman dalam berdoa. Disediakan beberapa tempat duduk panjang di dekat goa. Terdapat pula kapel, aula, dan sumber air suci yang bisa digunakan baik sebagai air suci. Bisa dikatakan walaupun masih terbilang baru, tetapi goa ini bisa dijadikan referensi yang bagus dalam peziarahan kita.



 

9 Responses to “Ekspedisi Goa Maria 2009”

  1. Yudhik Says:

    Cukup terharu membaca tulisan GM Jatiningsih, krn aku adalah adik kandung mas Iman (Aloysius Ariandono), terus berkarya, Tuhan memberkati!

    • windiarti Says:

      o……gt. mksh ya commentnya. bener ga tulisanku?kmarin datanya kurang sbnrnya, ga sempat ketemu bapak. jadi tanya2 yang di toko itu.

  2. thomas Says:

    kalo ga salah, gua pengilon leres diberkati pertama oleh romo suharto widodo pr.Mohon dikonfirmasikan lebih lanjut. Trims

  3. msugiyanto@yahoo.com Says:

    mabk windi.. bagus tulisannya.. saya salah satu putra daerah dari stasi pelem dukuh, Bp. Wakidi adalah Bp. Guruku..
    kalau boleh minta ijin untuk saya share tulisan mbah windi di facebook saya.. GBU..

  4. Tauhan Kartika Says:

    Sangat menarik dan informatif sekali mbak. Gua Maria Pangiloning Leres itu tidak jauh dari Gua Maria Lawangsih kan. Bisa tolong berikan saya arahan kalau saya mau kesana dari Gua Maria Lawangsih. Mungkin peta jalannya? Terimakasih sebelumnya. Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s