<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Windiarti's Weblog</title>
	<atom:link href="http://windiarti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://windiarti.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Jun 2010 02:19:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='windiarti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Windiarti's Weblog</title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://windiarti.wordpress.com/osd.xml" title="Windiarti&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://windiarti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2010/04/09/132/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2010/04/09/132/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 01:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[patihombo (sepenggal kisah dari bukit menoreh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Sepenggal Kisah dari Bukit Menoreh Bila mengunjungi perbukitan Menoreh yang tersohor itu, tak akan terbayang bila ada banyak cerita menarik mengenai kehidupan warga di sekitarnya, warga desa yang gigih dan ulet yang berada di Dusun Patihombo. Patihombo adalah nama dusun kami, dusun ini terletak di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Dusun dengan seribu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=132&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sepenggal Kisah dari Bukit Menoreh</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto005.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-130" title="Foto005" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto005.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bila mengunjungi perbukitan Menoreh yang tersohor itu, tak akan terbayang bila ada banyak cerita menarik mengenai kehidupan warga di sekitarnya, warga desa yang gigih dan ulet yang berada di Dusun Patihombo.  Patihombo adalah nama dusun kami, dusun ini terletak di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Dusun dengan seribu kenangan, disana kami dilahirkan dan dibesarkan. Dusun yang selalu memberikan warganya nafas kehidupan, walau kini telah banyak ditinggalkan warganya. Dusun yang sebenarnya memiliki banyak potensi alam yang menarik, mulai dari adanya beberapa goa batu kapur alami, perbukitan yang indah, aliran sungai yang jernih sampai kekayaan hasil bumi yang bisa dimanfaatkan warga sekitar. Tak heran bila sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menuju Dusun Patihombo memerlukan waktu sekitar satu setengah jam dari kota Yogyakarta bila menggunakan sepeda motor dan dua jam bila menggunakan bus dan menyambung kemudian ojek. Untuk sampai ke sana, saya melalui jalan yang berkelok-kelok, naik turun gunung, dan melewati hamparan sawah yang luas. Bila berhenti di tepi jalan, kita bisa menyaksikan jurang di kanan kiri jalan, kemudian sejauh pandangan mata lurus kedepan, kita bisa menyaksikan lereng-lereng perbukitan kapur yang menghijau. Itulah salah satu keunikan daerah perbukitan menoreh yang kaya akan keindahan alam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if gte vml 1]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0107a.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-131" title="IMG0107A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0107a.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>Dalam hal ketaatan beragama, warga Patihombo adalah warga yang taat beragama. Kebanyakan dari mereka beragama Katholik. Hal ini bisa dilihat dari adanya beberapa tempat ziarah baru di sana, antara lain Goa maria Pangiloning Leres dan Goa Maria Lawangsih. Tempat ziarah ini mereka kembangkan dengan gotong royong yang tinggi dari proses pembuatan tempat ziarah, sampai pada pemeliharaannya. Setelah menjadi tempat ziarah yang banyak dikenal masyarakat, warga tetap rajin untuk mengunjungi dan merawat tempat ziarah itu. Semua itu mereka lakukan demi berkembangnya iman akan Yesus Kristus</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Seba<a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto003.jpg"><img class="size-medium wp-image-133 alignright" title="Foto003" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto003.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>gian besar penduduk Patihombo adalah petani. Menekuni kehidupan sebagai petani merupakan pilihan penduduk setempat sedari kecil. Dari alam pemberian Tuhan itulah mereka mencukupi semua kebutuhan hidup. Musim berpengaruh besar terhadap pertanian mereka. Bagi mereka musim hujan kali ini adalah musim yang paling ditunggu-tunggu. Dimana pada musim semua harapan digantungkan, tunas-tunas baru akan tumbuh dan penduduk bisa mulai menanam kembali tanaman palawija, jagung, dan banyak tanaman lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Bila musim kemarau tiba, sedikit sulit untuk bisa menanam tanaman baru. Kurangnya air menjadi salah satu alasan. Sebenarnya Patihombo adalah dusun yang subur bila dibandingkan dusun lain, akan tetapi masalah air bila musim kemarau adalah masalah yang cukup sulit. Kebanyakan dari penduduk mencukupi kebutuhan air dengan mengalirkan air dalam selang dari kaki bukit Gilingan. Namun, bila musim kemarau tiba,  sumber mata air itu pun sebagian besar berkurang, sehingga warga membuat kebijakan untuk bergiliran mengalirkan air pada setiap rumah. Bisa dibayangkan bila dalam satu sumber air ada 7 selang, berarti setiap tujuh hari sekali air baru akan mengalir ke rumah mereka. Adapun bila giliran  mengalirkan air belum tiba dan ternyata air di rumah telah habis, warga mencukupi kebutuhan minum dan mandi pada sungai kecil yang terletak di bekas sawah. Alasan inilah yang membuat sebagian warga yang menanam  tanaman dengan kebutuhan air yang besar seperti sayura hijau  memutuskan untuk menanam pada musim penghujan saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Keuletan adalah kunci dari keberhasilan mereka. Mulai dari menanam, merawat hingga memanen mereka lakukan dengan penuh kesabaran terhadap semua jenis tanaman yang mereka tanam. Ada berbagai tanaman yang mereka tanam, untuk tanaman perkebunan seperti cengkeh, kopi, melinjo, dan masih banyak lagi tanaman lain, sedangkan tanaman pangan seperti pisang, salak, durian, dan sebagainya. Adapun untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka menanam berbagai macam tanaman tersebut bersama-sama agar tetap bisa menyambung kehidupan bila satu jenis tanaman tidak sedang menghasilkan buah, demikian yang dikatakan Bapak Trisno Sumarto “Saya tidak tertarik menanam satu jenis tanaman saja karena hasilnya tidak bisa dipastikan selalu ada, dengan menanam bermacam-macam tanaman dengan umur yang berbeda, bisa untuk menyambung ekonomi keluarga. Kalau hanya menanam satu jenis saja, hanya pada musimnya saja saya mendapatkan hasil”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kehidupan mereka memang banyak mereka habiskan di ladang, namun, tidak ada angkutan umum yang menyusuri ruas jalan desa itu. Untuk transportasi, biasanya mereka menggunakan sepeda motor  atau menggunakan ojek.  Dapat dimaklumi tidak adanya angkutan umum karena sepinya aktifitas keluar dusun, adapun sesekali mereka hanya pergi ke pasar. Jika ingin mengangkut hasil dari ladang seperti rumput atau hasil bumi yang lain, mereka biasa membawanya sendiri tanpa angkutan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Meskipun mereka tinggal di desa, tetapi ada hal yang membuatnya kalah dengan warga desa lain yaitu jarang adanya petani yang mau menggarap sawah sedangkan lahan cukup luas, air juga berlimpah jika musim penghujan. Menurut Bapak Trisno sumarto, dulunya di Patihombo ada beberapa lahan sawah. Namun, saat ini semua sawah telah dijadikan ladang. Mereka beranggapan bahwa bersawah tidak banyak mendatangkan keuntungan sehingga mereka memilih menanaminya dengan kayu-kayu keras yang bisa dijual dengan cepat dan tanpa perawatan khusus. Padahal, bila mereka tetap membudidayakan tanaman padi, tentu semakin banyak sumber penghasilan mereka. Mereka bisa berswasembada dengan hasil kerja sendiri tanpa harus mendapatkan jatah beras rakyat miskin dari pemerintah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto000.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-134" title="Foto000" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto000.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> Memang tak bisa dihindari  profesi sebagai seorang petani bagi Bapak Trisno Sumarto terkadang dipandang rendah oleh profesi lain. Pekerjaan ini memerlukan banyak tenaga dengan hasil yang terkadang tidak mencukupi kebutuhan. Namun, siapa sangka bila mereka mempunyai semangat yang besar untuk masalah pendidikan anak. Hampir semua anak-anak di Patihombo semuanya bersekolah. Rata-rata pendidikan mereka adalah setaraf SMA, bahkan adapula yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Tak terkecuali bagi bapak Trisno Sumarto, dari keenam anaknya hampir semuanya lulusan SMA. Ibu Sujirah salah satu orang tua yang anaknya bisa menyelesaikan sekolahnya di perguruan tinggi karena usahanya bersama suami. “Anak saya bisa sekolah karena hasil saya menjual kayu, menjual kambing, cengkeh dan hasil-hasil lainnya” demikian katanya. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa mereka memiliki banyak cara untuk mengumpulkan uang guna biaya anaknya. Usaha mereka benar-benar maksimal demi kebahagiaan anaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Anak-anak bapak Trisno Sumarto, saat ini semuanya telah hidup mandiri. Empat anak dari bapak Trisno Sumarto memutuskan untuk pergi ke kota untuk bekerja. Dua lainnya memilih tetap tinggal di desa tempat kelahiran mereka. Ada suatu pertanyaan yang mengganjal pemikiran saya ketika tahu masih ada anak yang masih mau tinggal di Patihombo. Ketika saya menanyakan kepada Mas Supriyadi alasannya, dia hanya menjawab singkat “Saya sudah merasa nyaman bekerja di sini, jadi tidak perlu merantau ke kota, lagipula saya jadi dekat dengan  orang tua” Bapak Trisno Sumarto menambahkan “Bila dibandingkan, kehidupan mereka tidak jauh berbeda, buktinya saja yang tinggal di desa juga bisa membangun rumah yang nyaman, tak kalah dengan yang di kota”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Hal ini tentu akan sangat berbeda bila kita membandingkan usaha mereka dengan orang kota pada kebanyakan. Di kota, justru banyak anak yang putus sekolah, banyak yang menganggur dan banyak pula keluarga-keluarga yang tidak rukun karena masalah kekurangan ekonomi. Begitu berbedanya bila hal ini dibandingkan dengan kehidupan di desa, walau kekurangan seperti apapun warga yang tinggal di desa selalu mengutamakan pendidikan anak, itu terbukti dengan semua anak di Patihombo yang bersekolah walaupun orang tua mereka bisa dibilang kekurangan. Untuk masalah pengangguran, di desa banyak yang bisa dikerjakan asal ada niat dan ketekunan, sedangkan masalah ekonomi, warga biasanya hidup apa adanya, tidak bermewah-mewah, kalaupun ada masalah keuangan, banyak saudara yang siap membantu untu meringankan beban mereka. Itulah keuntungan hidup di desa bisa saling tolong menolong.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Beternak kambing merupakan salah satu cara untuk menabung selain menanam tanaman kayu. Hampir semua warga Patihombo mengembangkan jenis usaha ini, ada yang benar-benar memfokuskan jenis usaha pada beternak, adapula yang hanya sebagai sampingan saja. Dengan beternak kambing, mereka bisa mengantisipasi adanya kebutuhan mendadak seperti kebutuhan biaya pendidikan anak dan biaya lain yang besar. Jenis kambing yang mereka kembangkan adalah kambing PE (peranakan etawa). “Sistem peternakan yang saya lakukan adalah dengan memberi makan cukup, menjaga kesehatan, dan menjaga kebersihan kandangnya” kata Bapak Wakidi yang merupakan salah satu petani yang beternak kambing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Ada banyak hal yang bisa dibanggakan dari dusun Patihombo, baik itu kekayaan alam ataupun ramah tamah penduduknya. Namun, ada hal yang membuat kita sedih bila mengingatnya, hal itu adalah semakin sedikitnya anak muda yang tinggal di rumah dan mengembangkan dusunnya. Kebanyakan dari mereka memilih untuk merantau. Entah itu sebagai karyawan, pramuniaga atau bahkan hanya sebagai buruh. Pemikiran mereka begitu sempit sehingga tidak pernah terpikirkan untuk membangun desanya dan hidup darinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Padahal, bila dilihat kembali, begitu banyak hal yang bisa dikembangkan. Seperti yang orangtua mereka lakukan dahulu, membesarkan mereka dari hasil alam. Seperti yang dikatakan Bapak Wakidi, “Saya sebenarnya tidak setuju bila anak muda banyak yang meninggalkan Patihombo karena nanti tidak akan ada generasi penerus yang meneruskan usaha kami para orangtua” demikian katanya.  Melihat kenyataan tersebut, bagaimana peran kita sebagai kaum muda? Akankah kita akan melupakan tanah yang telah membesarkan kita?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Penulis: Lucia Windiarti</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong>Tulisan ini pernah dimuat di majalah Natas (Majalah Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Natas Universitas Sanata Dharma, Edisi Januari-Mei 2009 dalam rubrik “Catatan Sang Jurnalis”, halaman 39-41. </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=132&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2010/04/09/132/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<georss:point>-7.797224 110.368797</georss:point>
		<geo:lat>-7.797224</geo:lat>
		<geo:long>110.368797</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto005.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Foto005</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0107a.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0107A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto003.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Foto003</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/foto000.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto000</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indahnya Sepanjang Jalan ke Goa Maria Lawangsih (Stasi Pelem Dukuh)</title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2010/04/07/indahnya-sepanjang-jalan-ke-goa-maria-lawangsih-stasi-pelem-dukuh/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2010/04/07/indahnya-sepanjang-jalan-ke-goa-maria-lawangsih-stasi-pelem-dukuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 09:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indahnya Sepanjang Jalan ke Lawangsih (Stasi Pelem Dukuh)]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Indahnya Sepanjang Jalan ke Goa Maria Lawangsih (Stasi Pelem Dukuh) Kebanyakan orang yang sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, biasanya beranggapan bahwa tempat tujuan adalah segalanya. Apalagi bila menuju ke sebuah tempat baru, dimana mereka hanya mendengar cerita dari orang lain. Tentu saja semua bayangan tertuju pada tempat tujuan, tak terpikir sedikitpun akan bagaimana menariknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=97&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Indahnya Sepanjang Jalan ke Goa Maria Lawangsih</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>(Stasi Pelem Dukuh)</strong></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/32497_1340128032092_1497919410_30850102_2419108_n1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-140" title="32497_1340128032092_1497919410_30850102_2419108_n" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/32497_1340128032092_1497919410_30850102_2419108_n1.jpg?w=556&#038;h=720" alt="" width="556" height="720" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><strong><br />
</strong></p>
<p>Kebanyakan orang yang sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat, biasanya beranggapan bahwa tempat tujuan adalah segalanya. Apalagi bila menuju ke sebuah tempat baru, dimana mereka hanya mendengar cerita dari orang lain. Tentu saja semua bayangan tertuju pada tempat tujuan, tak terpikir sedikitpun akan bagaimana menariknya perjalanan yang akan dilalui sampai ke tujuan. Tapi siapa menyangka bila pemandangan sepanjang perjalanan merupakan daya tarik lain yang luar biasa untuk dinikmati?</p>
<p>Kita akan menemukan jawabnya bila kita mengunjungi Goa Maria Lawangsih dan Pangiloning Leres yang terletak di stasi Pelem dukuh. Di sepanjang jalan menuju ke sana, kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang begitu mempesona: hamparan petak sawah yang luas, barisan pegunungan yang elok, tebing-tebing yang berdiri kokoh, hijaunya ladang warga, kota Yogyakarta yang tampak bak miniatur dalam kaca, pantai selatan yang tampak biru dari kejauhan, indahnya kerlap-kerlip lampu bila malam hari juga tampak dari sana. Sensasi perjalanannya memang masih kalah memompa adrenalin bila dibandingkan dengan menaiki <em>roller coster</em>, namun sudah cukup untuk memberikan pengalaman baru yaitu  jalan yang berkelok-belok naik maupun turun. Itu baru sebagian keindahan saja, masih banyak lagi keindahan alam yang akan kita saksikan dan rasakan ketika kita berkunjung ke sana.</p>
<p>Dari kota Yogyakarta, perjalanan memerlukan waktu perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Menembus ramainya jalan Godean yang mulai dilirik para pengusaha untuk membuka berbagai usaha yang berjajar rapi sepanjang jalan, kita akan sampai di daerah Kenteng. Seperti yang kita ketahui, daerah Kenteng dilalui oleh Sungai Progo yang begitu tersohor hingga diabadikan menjadi nama daerah. Sedikit mengingatkan saja, bila di sebelah timur Sungai progo daerahnya bernama Wetan Progo, sedangkan bila berada di sebelah barat sungai Progo, daerahnya dinamakan Kulon Progo.</p>
<p><img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/sungai-progo1.jpg?w=300" alt="" /> <img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0508a1.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p>Sungai Progo cukup besar, sehingga membelah antara Kulon Progo dengan Wetan Progo. Di atas sungai progo dibangun jembatan yang menghubungkan antara Kulon Progo dengan Wetan Progo, ya, jembatan itulah yang akan kita lewati ketika menuju ke Lawangsih dan Pangiloning Leres. Dari jembatan itu, kita bisa menyaksikan tenangnya aliran sungai Progo yang nantinya akan bermuara ke laut.  Di sanalah banyak orang menghabiskan waktu ketika sore hari untuk sekedar berkumpul bersama teman-teman, maupun sendiri.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0504a.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p>Bila perut terasa lapar, kita bisa mencicipi makanan yang cukup terkenal di perbatasan Kulon Progo dengan Wetan Progo, yaitu tongseng kambing Ngapak, letaknya persis sebelum sungai Progo, yaitu di sebelah kiri jalan. Cita rasanya yang tak diragukan kelezatannya membuat warung tongseng ini ramai dikunjungi pelanggan setiap harinya. Baik  itu penduduk setempat, maupun pendatang yang hanya singgah melepaskan lelah.  Hampir setiap saat selalu saja ada motor ataupun mobil yang parkir di depan warung, menandakan banyaknya pelanggan yang setia menikmati enaknya tongseng kambing Ngapak.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/per4an-kenteng1.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p>Beranjak sedikit dari sungai Progo, kita akan menemukan sebuah perempatan. Perempatan kenteng, begitu orang biasa menyebutnya. Dari perempatan inilah petualangan untuk menyaksikan agungnya karya Tuhan melalui lukisan  nyata yang terwujud pada alam pegunungan  mulai bisa kita lihat. Dari sana, ada dua jalan yang bisa kita lewati bila kita ingin menuju ke Lawangsih dan Pangiloning Leres. Jalan pertama adalah dari perempatan kenteng lurus, kita akan melewati tanjakan Mbibis yang berkelok-kelok dan tebing yang cukup tinggi yang terhampar di depan mata. Sedangkan, jalan kedua sering saya namakan jalan kecamatan, karena melewati kecamatam Girimulyo adalah perempatan kenteng belok kiri.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p>Berikut ini akan saya tuliskan pemandangan apa yang akan anda saksikan bila memilih jalan tersebut.</p>
<p><strong>Rute pertama</strong></p>
<p>Rute pertama yaitu dari perempatan kenteng, lurus, melewati tanjakan yang cukup tinggi yaitu tanjakan Mbibis. Pemandangan pertama yang akan banyak ditemui adalah hamparan sawah yang menguning. Ada beberapa sawah yang akan kita lewati bila melalui rute ini, sawah pertama tampak biasa saja, sedangkan dari sawah kedua, dan seterusnya pemandangannya cukup menawan untuk kita saksikan. Cobalah berhenti sejenak untuk menyaksikan hamparan sawah yang mulai menguningitu. Melihatnya mengingatkan kita pada hamparan permadani berwarna hijau kekuningan yang sangat mewah.</p>
<p>Barisan perbukitan juga melatar belakangi pemandangan sawah tersebut. Melihat ke segala arah membuat kita melihat barisan perbukitan dan gunung yang tampak seperti pagar  yang melingkar. Mungkin Tuhan mencipta itu semua untuk melindungi daerah Kulon Progo dari segala macam bahaya yang mungkin sewaktu-waktu datang. Gunung Merapi juga tak kalah menariknya bila dibanding gunung lain. Bila kita beruntung, kita bisa melihat gunung Merapi seutuhnya. Tetapi, bila cuaca sedang sedikit mendung, gunung Merapi sepertinya malu-malu untuk menampakkan diri seutuhnya, bagaikan gadis remaja yang bertemu dengan pria pujaannya sehingga kadang tertutup awan tipis.</p>
<p>Beranjak dari sawah tersebut kita akan melewati beberapa jalan menanjak. Diantara tanjakan itu, ada dua tanjakan yang cukup tinggi. Mungkin bila kendaraan yang tidak terbiasa dengan medan yang menanjak akan sedikit kesulitan. Namun kelebihan dari rute ini justru terletak pada tanjakan itu. Dari tanjakan itu kita bisa melihat tebing-tebing berbatu hitam dan jurang yang agak dalam menghijau karena ditumbuhi rimbunnya tanaman baik yang berkayu keras maupun rumput-rumput kecil. Bila duduk sejenak di sana, kita akan merasakan indahnya alam yang menggambarkan keceriaan. Semilir angin membawa diri untuk menuju kesejukan, dari tepi jalan itu terlihat hamparan yang luas penuh dengan keindahan, seolah terdapat kedamaian dibawah sana, terlihat beberapa atap merah dibawah sana, pertanda ada kehidupan di bawah sana, ya itu merupakan rumah warga. Tepat di tengah tanjakan ke dua terdapat pohon beringin besar, dibawahnya terdapat sungai kecil yang dimanfaatkan utuk mencukupi kebutuhan hidup warga sekitar.</p>
<p style="text-align:center;">Sejauh mata memandang, nun jauh di seberang sana, warna biru dan hijau mendominasi pemandangan dari sisi jalan ini. Warna biru adalah langit, sedangkan warna hijau adalah tumbuhan yang tumbuh di pegunungan-pegunungan itu. Melihat pemandangan dari sini mengingatkan saya akan lukisan pelukis terkenal, gambaran keindahan alam terlukis nyata di hadapan mata. Semuanya terlihat dari sini, perbukitan itu terlihat saling berdesakan, di samping bukit ada bukit, di belakangnya juga ada bukit, sedangkan di tengah-tengahnya ada sawah yang cukup luas. Di pematang sawah kita akan menjumpai tanaman jagung yang berjajar rapi, terdapat pula gubug tempat beristirahat, benar-benar khayalan yang menjadi kenyataan.</p>
<p style="text-align:left;"><img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0460a.jpg?w=300" alt="" /> <img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0463a.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p style="text-align:left;"><img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0418a.jpg?w=300" alt="" /> <img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0419a.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p style="text-align:left;"><img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/sawah.jpg?w=300" alt="" /> <img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0417a.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0426a.jpg"><img class="size-medium wp-image-113 aligncenter" title="IMG0426A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0426a.jpg?w=286&#038;h=194" alt="" width="286" height="194" /></a></p>
<p><strong>Rute 2</strong></p>
<p>Rute ini lebih mudah bila dibandingkan rute 1. Meskipun jalannya relatif menanjak, tetapi tidak terlalu tinggi. Kita akan melewati pom bensin Kenteng, gereja Nanggulan, lurus terus sampai bertemu pertigaan, kita belok kanan melewati sebuah jembatan di mana sebuah sungai kecil dan hamparan petak sawah terhampar di bawah kita. Bagi yang belum terbiasa naik gunung, biasanya memilih rute ini. Bila melalui rute ini, kita akan menemukan pemandangan alam yang indah, meskipun menurut saya masih kalah bila dibandingkan dengan pemandangan yang akan kita temui bila kita melewati rute 1.</p>
<p>Jurang yang akan kita temui tidaklah terlalu curam, sehingga bingkai hijau di seberang jurang dapat terlihat dengan jelas. Tepat di seberang jalan , bila menengok ke kanan ataupun kiri, kita akan melihat hijaunya sawah dengan gubug kecil di tengah-tengahnya, gubug itu adalah tempat berteduh petani yang kelelahan setelah bekerja di sawah. Yang tak kalah menarik untuk saya adalah tumbuhnya berwarna-warni bunga liar di sepanjang jalan, entah siapa yang menanamnya. Walaupun bunga itu adalah bunga liar, tetapi sangat menarik untuk dilihat.</p>
<p>Cobalah menengok ke utara, gunung Merapi yang menjulang itu hanya tampak bagian puncaknya saja. Semakin jauh naik perjalanan kita, semakin terlihat utuhnya gunung Merapi di kejauhan. Di beberapa sisi jalan, kota Yogyakarta terlihat sangat kecil. Pemandangan kota Yogyakarta akan sangat berbeda bila malam hari, cobalah lihat ada ribuan bintang berwarna-warni berkelap-kelip dari arah timur, itulah kota Yogyakarta bila dilihat pada malam hari. Dari goa Maria Pangiloning Leres kita juga bisa menemukan pemandangan kerlap-kerlip kota Yogyakarta ini utuh, karena goa Maria Pangiloning Leres berada di puncak bukit.</p>
<p><img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0519a1.jpg?w=300" alt="" /> <img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0529a.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p><img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/bunga-di-tepi-jalan.jpg?w=300" alt="" /> <img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0554a.jpg?w=300" alt="" /></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0543a1.jpg"><img class="size-medium wp-image-124 aligncenter" title="IMG0543A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0543a1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Pertemuan daridua jalan ini adalah di pertigaan Jonggrangan, dari sana sudah banyak penunjuk jalan yang menunjukkan jalan bagi peziarah untuk ke Lawangsih dan Pangiloning Leres.  Membutuhkan waktu 15 menit hingga sampai ke tujuan. Bila sampai di Jonggrangan, udara sudah mulai berbeda daripada di Kenteng, walaupun matahari bersinar cerah dan langit biru bersih, berjalan di tengah pegunungan ini sungguh dingin rasanya. Mungkin letak pegunungan yang terlalu tinggi sehingga sinar mentari bahkan tak mampu menyentuh jalan raya di dasar lembah sehingga membuat udara dingin dan menyegarkan. Udara di desa memang belum tercemar, apalagi bila angin bertiup sepoi-sepoi, hawa sejuknya merasuk ke dalam sukma.</p>
<p>Demikianlah gambaran yang bisa saya ungkapkan mengenai pemandangan alam yang akan dijumpai bila berkunjung ke stasi Pelem Dukuh, tempat terdapatnya goa Maria Lawangsih dan Pangiloning Leres. Satu hal yang perlu saya tekankan adalah jalan di desa tidak semudah di kota, rutenya yang naik turun memerlukan kecermatan dan kehati-hatian lebih. Tapi semuanya tentu akan terbayar ketika kita bertemu dengan bunda maria di dalam doa di sana. Selamat mencoba.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=97&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2010/04/07/indahnya-sepanjang-jalan-ke-goa-maria-lawangsih-stasi-pelem-dukuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<georss:point>-7.797224 110.368797</georss:point>
		<geo:lat>-7.797224</geo:lat>
		<geo:long>110.368797</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/32497_1340128032092_1497919410_30850102_2419108_n1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">32497_1340128032092_1497919410_30850102_2419108_n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/sungai-progo1.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0508a1.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0504a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/per4an-kenteng1.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0460a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0463a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0418a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0419a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/sawah.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0417a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0426a.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0426A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0519a1.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0529a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/bunga-di-tepi-jalan.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0554a.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/04/img0543a1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0543A</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/14/87/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/14/87/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Mar 2010 10:39:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[kambing etawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Ilmiah Populer Membidik Bisnis Baru, Beternak Kambing Etawa Beternak kambing merupakan kegiatan yang memiliki prospek pengembangan yang baik di Indonesia. Ada banyak manfaat yang dihasilkan oleh kambing; baik itu daging, susu, kotoran, maupun kambing sebagai binatang kesayangan. Kegiatan beternak kambing biasanya dilakukan oleh orang yang tinggal di daerah pedesaan. Hal ini dikarenakan desa masih memiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=87&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ilmiah Populer</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Membidik Bisnis Baru, Beternak Kambing Etawa</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/foto0091.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-89" title="Foto009" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/foto0091.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><br />
</strong></p>
<p>Beternak kambing merupakan kegiatan yang memiliki prospek pengembangan yang baik di Indonesia. Ada banyak manfaat yang dihasilkan oleh kambing; baik itu daging, susu, kotoran, maupun kambing sebagai binatang kesayangan. Kegiatan beternak kambing biasanya dilakukan oleh orang yang tinggal di daerah pedesaan. Hal ini dikarenakan desa masih memiliki lahan yang luas untuk menanam berbagai tanaman yang bisa dijadikan makanan ternak. Menurut sumber <em>www.smallcrab.com</em>, populasi kambing di Indonesia saat ini mencapai 7 juta ekor. Jumlah ini 76% diantaranya berada di Pulau Jawa. Kambing umumnya dipelihara dengan cara yang sangat sederhana di setiap rumah tangga pedesaan. Setiap keluarga pada umumnya memiliki 4 – 6 ekor kambing yang dipelihara di  dalam kandang yang biasanya berada di halaman rumah. Pakan yang diberikan setiap hari berasal dari rumput yang ada di seputar rumah.</p>
<p>Bagi sebagian besar orang, beternak  merupakan mata pencaharian. Tetapi, ada juga yang memelihara kambing etawa karena hobi saja. Hobi yang kini mulai banyak ditekuni banyak orang. Hal ini terbukti dengan adanya beberapa perlombaan kambing etawa yang bertujuan memperkenalkan hobi baru yang menjanjikan banyak keuntungan ini. Banyaknya peserta yang mengikuti perlombaan membuktikan bahwa banyak orang tertarik untuk menggeluti bidang peternakan kambing ini.</p>
<p>Kambing etewa adalah kambing yang berasal dari India yaitu dari daerah Punjab. Kambing ini sering juga di sebut kambing Jampari. Pada tahun 1920 banyak penguasa Belanda yang membawa kambing ini ke Indonesia, khususnya di pulau Jawa dengan tujuan memanfaatkan limbah pertanian. Awalnya kambing etawa dititipkan di daerah pegunungan Jawa Tengah dan Yogyakarta, tepatnya dari Sleman hingga Purworejo kambing etawa yang pertama kali dibawa ke pulau Jawa umumnya corak bulunya berwarna hitam putih. Dianggap sukses merajai jenis kambing di Indonesia,  maka pemerintah Belanda mengimpor lagi kambing etawa ke pulau Jawa dengan corak warna bulu putih coklat / merah</p>
<p>Setelah kemerdekaan RI tahun 1945 banyak petani yang dititipi kambing etawa berlaku sembarangan, tidak adanya pengawasan membuat banyak kambing etawa sembarangan di kawinkan dengan kambing lokal seperti kambing kacang dan kambing priangan ataupun dengan kambing sanen yang telah ada sebelum. Hasil dari perkawinan itu menghasilkan ras – ras baru seperti kambing jawa randu, benggala, PE (peranakan etawa), dan jenis-jenis lainnya. Saat ini, yang banyak digemari oleh peternak adalah kambing peranakan etawa. Ciri khas kambing PE diantaranya adalah telinga panjang menggantung, tubuh tinggi besar, terdapat bulu yang pada bagian dagu, paha, dan ekor (Sarwono, 1991: 37).</p>
<p>Kambing etawa adalah jenis kambing yang paling bagus, bila disamakan dengan ayam jago, kambing etawa adalah sejenis jago bangkok (sebutan untuk ayam pejantan tertentu). Jago bangkok dikenal sebagai jago piaraan khusus, atau mereka yang memelihara ayam jago bangkok adalah untuk sekedar hobi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hobi atau kesenagan biasanya lebih mahal daripada yang biasa, dan jago bangkok pun harganya bisa dua sampai lima kali lipat harga ayam jantan pada umumnya. Begitu juga dengan kambing etawa, kambing etawa adalah sejenis kambing khusus. Bisa dibilang mereka yang memelihara kambing etawa hanya orang yang memeliharanya sebagai hobi saja. Harganya juga mahal, bagi kambing dengan kualitas bagus, meskipun masih kecil. Bisa dihargai sejumlah Rp 7.000.000,00.</p>
<p>Namun di daerah pedesaan,  umumnya kambing etwa yang diternakkan akan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Peternak dengan pengetahuan minim, biasanya kurang bisa memanfaatkan  potensi lain yang dihasilkan kambing etawa, selain penjualannya. Meskipun disebut kambing etawa, terkadang bila mereka menjual, dihargai dengan harga rendah. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan untuk mengembangkan kambing etawa, sehingga tidak hanya menjadi ternak saja. Melainkan bisa menjadi hobi dengan penghasilan yang besar. Ada pula potensi yang bisa dikembangkan selain hanya sekedar hobi, yaitu produksi susu kambing etawa dan pupuk alami dari kotoran kambing etawa. Susu kambing etawa dihasilkan oleh induk kambing yang sedang menyusui.</p>
<p><strong>Susu Kambing Bila Dibandingkan dengan Jenis Susu Lain</strong></p>
<p>Susu kambing belum dikenal secara luas seperti susu sapi padahal memiliki komposisi kimia yang cukup baik (kandungan protein 4,3% dan lemak 2,8%) relatif lebih baik dibandingkan kandungan protein susu sapi dengan protein 3,8% dan lemak 5,0%. Disamping itu dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing lebih mudah dicerna, karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan secara alamiah sudah berada dalam keadaan homogen (Sunarlim dkk, 1992 melalui <a href="http://tcplanet.blogspot.com/2007/11/khasiat-dan-manfaat-susu-kambing-etawa.html">http://tcplanet.blogspot.com /2007/11/khasiat-dan-manfaat-susu-kambing-etawa.html</a>)</p>
<p>Produktivitas biologis kambing cukup tinggi, 8-28% lebih tinggi dibandingkan sapi (Devendra, 1975 melalui <a href="http://tcplanet.blogspot.com/2007/11/khasiat-dan-manfaat-susu-kambing-etawa.html">http://tcplanet.blogspot.com /2007/11/khasiat-dan-manfaat-susu-kambing-etawa.html</a>). Jumlah anak per kelahiran (litter size) bervariasi 1 sampai dengan 3 ekor dengan tingkat produksi susu yang melebihi dari kebutuhan untuk anaknya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai produk komersial dan tidak mengganggu proses reproduksinya. Biaya investasi usaha ternak kambing relatif rendah dan pemeliharaannya pun jauh lebih mudah dibanding sapi. Dari hasil penelitian para ahli dan bukti sejarah telah banyak membuktikan bahwa ternyata susu kambing mempunyai banyak kelebihan di banding dengan susu hewan pemamah biak yang lain, Seperti: Sapi, Lembu, Kerbau, Kuda, Onta, Domba, Dan lain-lain. Berikut adalah tabel kandungan susu kambing etawa bila dibandingkan susu jenis lain  (Sodiq,2002: 13-14):</p>
<p><strong>Tabel Komposisi Susu Kambing, Susu Sapi, dan ASI</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="223">Komposisi</td>
<td width="149">Susu Sapi</td>
<td width="198">Susu Kambing</td>
<td width="94">ASI</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Protein (gr)</td>
<td width="149">3.3</td>
<td width="198">3.6</td>
<td width="94">1.0</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Lemak (gr)</td>
<td width="149">3.3</td>
<td width="198">4.2</td>
<td width="94">4.4</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Karbohidrat   (gr)</td>
<td width="149">4.7</td>
<td width="198">4.5</td>
<td width="94">6.9</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Kalori   (cal)</td>
<td width="149">61</td>
<td width="198">69</td>
<td width="94">70</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Fosfor   (gr)</td>
<td width="149">93</td>
<td width="198">111</td>
<td width="94">14</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Kalsium   (gr)</td>
<td width="149">19</td>
<td width="198">134</td>
<td width="94">32</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Magnesium   (gr)</td>
<td width="149">13</td>
<td width="198">14</td>
<td width="94">3</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Besi (gr)</td>
<td width="149">0.05</td>
<td width="198">0.05</td>
<td width="94">0.03</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Natrium   (gr)</td>
<td width="149">49</td>
<td width="198">50</td>
<td width="94">17</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Kalium   (gr)</td>
<td width="149">152</td>
<td width="198">204</td>
<td width="94">51</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Vitamin A   (IU)</td>
<td width="149">126</td>
<td width="198">185</td>
<td width="94">241</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Thiamin   (mg)</td>
<td width="149">0.04</td>
<td width="198">0.05</td>
<td width="94">0.014</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Ribiflavin   (mg)</td>
<td width="149">0.16</td>
<td width="198">0.14</td>
<td width="94">0.04</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Niacin   (mg)</td>
<td width="149">0.08</td>
<td width="198">0.28</td>
<td width="94">0.18</td>
</tr>
<tr>
<td width="223">Vitamin B6   (mg)</td>
<td width="149">0.04</td>
<td width="198">0.05</td>
<td width="94">0.01</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Komposisi di atas hampir sama dengan penelitian dari Balai Penelitian Veteriner, Bogor.</em></p>
<p>Susu kambing mudah di serap tubuh manusia, itu sebabnya dapat di minum oleh bayi di atas enam bulan, manula, dan baik bagi penderita radang usus. Ukuran lemak susu kambing 2 mikrometer. Susu sapi berukuran 2.5-3.5 mikrometer. Dengan lemak lebih kecil, susu kambing lebih cepat di cerna dan campurannya lebih homogeny. Susu kambing tercerna setelah 20 menit, sedangkan susu sapi setelah 8 jam.</p>
<p><strong>Perkawinan kambing Etawa</strong></p>
<p>Air susu kambing etawa dihasilkan oleh kambing betina yang sedang menyusui, untuk bisa hamil, tentu saja kambing harus dikawinkan terlebih dahulu. Menurut teori kambing etawa sebenarnya boleh di kawinkan semenjak siklus pertama birahi yaitu umur 8 bulan, namun, untuk mendapatkan hasil keturunan kambing etawa yang baik dan mengembangkan induk sampai benar benar dewasa biasanya peternak akan menunda perkawinan sampai  beberapa kali siklus atau di tunda hingga umur 3 atu 4 bulan setelah birahi pertama terlihat (berkisar 12 hingga 14 bulan). Peternak yang teliti biasanya akan mebuat tanggal atau menandai sejak siklus birahi betina hingga menjelang betina benar-benar dewasa dan siap untuk di kawinkan agar dapat mengenali pada masa birahi berikutnya dan biasanya kambing betina yang terhitung mendekati siklus birahi akan di berikan makanan (konsentrat ) yang mengandung protein serta gizi yang lebih baik dari biasanya, hal ini bertujuan agar memperkecil kemungkinan gagal kawin yang berarti harus menunggu 21 hari lagi untuk siklus (http://www.kambingetawa.org/siklus-birahi-kambing-etawa.html).</p>
<p>Bila ingin mendapatkan kualitas susu yang baik, peternak harus memberi makanan yang cukup bagi kambing betina yang sedang hamil. Rata-rata usia kandungan kambing betina adalah 5 bulan atau 150 hari, Setelah 150 hari di dalam perut induknya, anakan kambing atau cempe akan lahir.  Setelah induk melahirkan, perlu adanya perawatan yang lebih maksimal pada cempe. Perawatan ini bertujuan untuk tetap menjaga kesehatan baik induk ataupun cempe agar bisa menjadi kambing yang berkualitas. Asupan makanan yang cukup selama masa kehamilan, akan  mendukung seluruh proses di dalam tubuhnya. Tambahan kalsium akan  sangat diperlukan bagi perkembangan janin kambing etawa.adapun masa perkembangan kambing betina dari dalam kandungan sampai dewasa meliputi: pertama masa masa janin, kedua pada saat dilahirkan, ketiga masa pertumbuhan, keempat masa pubertas, kelima masa bunting, keenam masa laktasi, dan ketujuh masa kering ( Sodiq, 2008: 68-71).</p>
<p><strong>Manfaat Susu Kambing Bagi Kesehatan</strong></p>
<p>Seperti yang kita ketahui, susu memiliki manfaat yang besar bagi kesehatan. Kini, pengobatan  cenderung kembali pada pola makan yang alami (<em>natural food</em>), Baik yang berasal dari tumbuh maupun hewan. Demikian halnya, penggunaan susu kambing sebagai pengobatan penyakit, bahkan pola ini sudah di gunakan orang sejak ribuan tahun lalu. Di zaman Mesir kuno, Ratu cantik <em>Cleopatra</em>, menggunakan susu kambing sebagai upaya untuk mempercantik wajah dengan cara mengkonsumsinya serta digunakan untuk mandi susu untuk menjaga kehalusan kulit dan keindahan tubuhnya.</p>
<p>Susu kambing sangat baik bagi penderita penyakit kulit, Eksim serta gatal-gatal pada kulit, Sebagai mana yang pernah dilakukan oleh Dokter George Dermit dari Ohaio, Amerika serikat. Menggunakaan terapi susu kambing bagi anak-anak penderita penyakit kulit tersebut. Bahkan para pakar penyakit kulit dari New   Zealand, terhadap para pasiennya di anjurkan untuk mengkonsumsi susu kambing sebagai peningkatan kesehatan kulit terutama bagian wajah. Kasiat susu kambing yang mengandung gizi tinggi, dapat mempercepat proses pertumbuhan gigi dan tulang. Juga untuk mengembalikan kesehatan seorang ibu yang baru melahirkan,Pendarahan sesudah melahirkan (<em>Postpartum</em>), Memulihkan zat besi sesudah haid, Juga bagi seorang yang kekurangan darah(<em>Anemia</em>). Terhadap orang-orang yang sudah berusia lanjut, Kandungan berbagai mineral dalam susu kambing akan menghambat kerapuhan tulang (<em>Osteoporosis</em>). Khasiat susu kambing yang lain, yaitu sangat manjur untuk mengatasi gangguan pernafasan terapi TBC, infeksi akut pada paru-paru seperti Astma. Juga mampu mengontrol kadar kolesterol dalam darah dan menyembuhkan asam urat tinggi serta adanya kelainan ginjal yang di sebut <em>Nepbratic Syndrom</em>.</p>
<p>Bukti telah menunjukkan bahwa susu kambing etawa telah memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Sebuah buku berjudul <em>“Khasiat &amp; Manfaaat susu kambing, Susu terbaik dari hewan Ruminansia”</em>, mengungkapkan beberapa kelebihan susu kambing di banding dengan susu dari binatang lainya antara lain sbb:</p>
<ol>
<li>Mempunyai      sifat antiseptik alami dan bisa membantu menekan pembiakan bakteri dalam      tubuh. Hal ini di sebabkan adanya <em>Flourin</em> yang kadarnya 10-100 kali      lebih besar dari pada susu sapi.</li>
<li>Bersifatbasah      (<em>Alkaline Food</em>) sehingga aman bagi tubuh.</li>
<li>Proteinnya      lembut dan efek laktasenya ringan, sehingga tidak menyebabkan diare.</li>
<li>Lemaknya      mudah di cerna karena mempunyai tekstur yang lembut dan halus lebih kecil      dibandingkan dengan butiran lemak susu sapi atau susu lainya. Dan juga      bersifat Homogen alami. Hal ini mempernudah untuk di cerna sehingga      menekan timbulnya reaksi-reaksi alergi.</li>
<li>Dengan      adanya sodium (Na), Fluorin(F), Kalsium (C), dan Fosfor (P) sebagai elemen      kimia yang dominan serta kandungan nutrisi lainya.</li>
</ol>
<p>Berdasarkan kandungan nutrisi dari susu kambing etawa, maka khasiat susu kambing etawa adalah:</p>
<ol>
<li>Membantu pencernaan dan mentralisir asam lambung.</li>
<li>Menyembuuhkan reaksi-reaksi alergi pada kulit,saluran nafas dan pencernaan.</li>
<li>Menyembuhkan bermacam-macam penyakit paru-paru, seperti astma, TBC, serta infeksi- infeksi akut lainya pada paru-paru.</li>
<li>Menyembuhkan beberapa kelainan ginjal,seperti <em>nepbrotic syndrome,</em> infeksi-infeksi ginjal serta asam urat tinggi.</li>
<li>Kandungan kalsium (Ca) yang tinggi dapat membantu menyembuhkan rematik dan mencegah kerapuhan tulang (osteoporosis).</li>
<li>Menambah Vitalitasdan daya tahan tubuh.</li>
<li>Mengatasi masalah impotensi dan gairah seksual, baik bagi pria maupun wanita.</li>
<li>Berdasarkan beberapa penelitian di Amerika, susu kambing terbukti mempunyai efek anti kanker (Damayanti dan Bernardius , 2002: 6-7)</li>
</ol>
<p>Adapun prospek harga susu kambing etawa sangat menjanjikan setiap liter susu kambing etawa dihargai Rp 30.000,00 per liter. Jauh diatas harga susu sapi yang biasanya lebih banyak dikonsumsi masyarakat, harga satu liter susu sapi adalah Rp 8.000,00. Harga yang sesuai dengan khasiat yang didapatkan oleh susu kambing etawa.</p>
<p><strong> Pemeliharaan kesehatan Kambing Etawa </strong></p>
<p>Untuk mendapatkan hasil susu yang baik, kesehatan kambing perlu dijaga dengan baik. Pemeliharaaan kesehatan merupakan hal utama dalam beternak, disamping kualitas makanan ternak dan tata laksana yang memadahi. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memisahkan antara kambing yang sehat dan kambing yang sakit. Sebaiknya kambing yang mempunyai penyakit menular dipisahkan dari kambing-kambing yang lain. Pemeriksaan secara teratur pada setiap kambing juga perlu dilakukan guna mengetahui secara dini bila terdapat penyakit pada kambing, contohnya penyakit pada putting susu kambing, susu yang luka dan membusuk, dan sebagainya. Bila terdapat penyakit, dokter hewan adalah ahli yang bisa membantu untuk menyembuhkan penyakit kambing, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.</p>
<p><strong>Kandang Kambing Etawa</strong></p>
<p><strong><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/foto016.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-90" title="Foto016" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/foto016.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
</strong></p>
<p>Kebersihan kandang juga harus dijaga agar kesehatan kambing bisa terjaga. Kandang berfungsi untuk melindungi kambing dari bahaya yang ada di luar kandang, seperti adanya hewan lain, panas, hujan, dan sebagainya. Ada beberapa gua macam kandang kambing yaitu kandang panggung dan kandang lemprakan. Namun, biasanya kandang panggung lebih disukai oleh peternak daripada kandang lemprakan karena dengan menggunakan kandang panggung, kebersihan dan kenyamanan kambing lebih terjaga. Kebanyakan, kandang lemprakan berlantai tanah, sehingga kurang sehat untuk kambing. Selain kotor, kambing juga kurang nyaman karena kandang menjadi lembab.</p>
<p>Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merawat kebersihan kandang yaitu: <em>pertama</em>: kandang bebeas dari genangan air. Genangan air merupakan tempat yang bagus untuk berkembang biak nyamuk dan dapat membantu penyebaran penyakit. Serangan nyamuk dalam populasi yang banyak dapat meyebabkan anemia dan menganggu ternak dalam beristirahat.<br />
<em> Kedua</em> sanitasi kandang, merupakan usaha dalam rangka membebaskan kandang dari bibit-bibit penyakit maupun parasit lainnya dengan mengunakan obat-obatan pengendali seperti disinfectan pada dosis yang dianjurkan. Tindakan ini harus dilakukan secara rutin pada kandang yang akan ditempati oleh ternak. sahakan kandang selalu di bersihkan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Semakin bersih kandang maka kenyamanan kambing juga akan semakin tinggi<em>. </em></p>
<p><em> Ketiga</em> kandang dan sinar matahari. Sinar matahari pagi mengandung ultraviolet yang berperan sebagai energi dan mencegah gangguan rakhitis, terutama pada ternak yang selalu dikandangkan secara terus menerus. Sinar ultraviolet secara alami akan membunuh kuman-kuman penyakit setiap saat. Jadi sinar matahari dapat berperan sebagai pengendali yang sangat efektif. <em>Keempat</em> pengaturan ventilasi. Merupakan salah satu pengaturan kandang yang baik. Maka konstruksi kandang haruslah memungkinkan terjadinya pertukaran udara secara sempurna. Ventilasi yang buruk akan merugikan kesehatan ternak, karena gas-gas kotor dari faces maupun hasil pernafasan tidak dengan cepat terbuang keluar kandang. Hal ini akan menganggu kesehatan ternak dan memungkinkan penggunaan makanan yang dikonsumsi ternak tidak efisien. <em>Kelima </em>umbaran ternak. Merupakan hal yang sangat penting, karenan ternak dapat berolahraga, sekaligus dapat mengendurkan otot-otot (http://artikelkambingetawa.blogspot.com).</p>
<p><strong>Manfaat Lain dari Kambing Etawa</strong></p>
<p>Selain itu, kotoran yang dihasilkan kambing etawa juga memberikan banyak manfaat bagi manusia. Kotoran kambing bisa menggantikan pupuk urea yang banyak digunakan petani. Tidak menimbulkan kesuburan tanah berkurang merupakan satu nilai lebih dari pupuk yang berasal dari kotoran kambing. kotoran kambing mengandung Nitrogen dan Phosfor. Kandungan nitrogen dan phosphor dalam kotoran kambing dapat dilihat dalam tabel:</p>
<p><strong>Tabel Perbandingan Kandungan Nitrogen dan Phosphor Dalam Kotoran Kambing Dibandingkan Kotoran Hewan Lain</strong></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="213" valign="top">Macam Kotoran</td>
<td width="213" valign="top">Nitrogen %</td>
<td width="213" valign="top">Phosfor</td>
</tr>
<tr>
<td width="213" valign="top">Sapi</p>
<p>Kuda</p>
<p>Kambing</p>
<p>Ayam</td>
<td width="213" valign="top">0,426</p>
<p>0,490</p>
<p>0,768</p>
<p>0,142</td>
<td width="213" valign="top">0,290</p>
<p>0,260</p>
<p>0,391</p>
<p>1,256</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber: Muljana, 1982: 8</p>
<p>Besarnya kandungan dari kotoran kambing membuat pupuk jenis ini sangat baik bila digunakan untuk tanaman.  Kotoran kambing bisa memberikan penghasilan baru bagi peternak. Dengan menjual kotoran kambing Etawa, peternak bisa mendapatkan penghasilan tambahan.  Pupuk yang bagus tentu juga akan mendatangkan hasil yang baik pula bagi tanaman.</p>
<p>Beberapa fakta di atas merupakan sedikit dari banyaknya manfaat yang bisa kita dapatkan bila kita beternak kambing etawa. Bukan hanya keuntungan yang bisa peternak dapatkan, melainkan juga kesenangan memiliki ternak yang mempunyai nilai jual tinggi sehingga digemari banyak orang. Banyaknya penggemar  membuat harga jual kambing menjadi tinggi. Bagi sebagian orang yang kurang mampu, harga jual yang cukup tinggi ini membuat beternak kambing bisa dijadikan tabungan bila sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Damayanti, Rini dan Bernardius , 2002. <em>Khasiat dan Manfaaat susu kambing, Susu terbaik dari Hewan Ruminansia. </em>AgroMedia Pustaka: Jakarta.</p>
<p><a href="http://tcplanet.blogspot.com/2007/11/khasiat-dan-manfaat-susu-kambing-etawa.html">http://tcplanet.blogspot.com /2007/11/<em>khasiat-dan-manfaat-susu-kambing-etawa.html</em></a>). diakses 3 Oktober 2009.</p>
<p>Muljana, W. 1982. <em>Cara Beternak Kambing</em>. Aneka Ilmu: Semarang.</p>
<p>Sodiq, Akhmad. Dkk. 2008. <em>Meningkatkan Produksi Susu Kambing Peranakan Etawa</em>. AgroMedia Pustaka: Jakarta.</p>
<p>Sarwono, W. 1991. <em>Beternak Kambing Unggul</em>. Aneka Ilmu: Semarang.</p>
<p>Sodiq, Akhmad. Dkk.2002. <em>Mengenal Lebih Dekat Kambing Peranakan Etawa</em>. Pt. Agromedia Pustaka. Jakarta.</p>
<p>www.smallcrab.com<em>. </em>diakses 3 Oktober 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=87&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/14/87/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/foto0091.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Foto009</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/foto016.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Foto016</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/13/83/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/13/83/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 05:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[hubungan tanpa status (hts)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Hubungan Tanpa Status Kita tentu tak asing lagi bila mendengar istilah hubungan tanpa status (HTS), hubungan semacam ini memang sangat dekat dengan kehidupan cinta remaja. Beberapa dari kita mungkin pernah mengalaminya atau bahkan sedang menjalani status hubungan ini. Hubungan yang satu ini memang bisa dikatakan unik. Hubungan tanpa status adalah sebuah hubungan asmara yang terjalin dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=83&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Hubungan Tanpa Status</strong></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/gandengan.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-84" title="gandengan" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/gandengan.jpg?w=109&#038;h=116" alt="" width="109" height="116" /></a></p>
<p>Kita tentu tak asing lagi bila mendengar istilah hubungan tanpa status (HTS), hubungan semacam ini memang sangat dekat dengan kehidupan cinta remaja. Beberapa dari kita mungkin pernah mengalaminya atau bahkan sedang menjalani status hubungan ini. Hubungan yang satu ini memang bisa dikatakan unik. Hubungan tanpa status adalah sebuah hubungan asmara yang terjalin dalam ketidakpastian, dibilang pacar, bukan. Dibilang teman, kok mesra banget ya? Sebenarnya apa yang dicari dari hubungan yang serba tidak jelas itu? Cinta, atau sekedar iseng saja?</p>
<p>Hubungan tanpa status memang berbeda tipis dengan pacaran. Bedanya HTS dilakukan tanpa rasa memiliki dan tanpa kata jadian. Intinya kita bisa saling menyayangi tanpa harus menyandang status pacaran. Bagi mereka yang tidak ingin terikat, tentu saja hubungan ini akan terasa menyenangkan. Salah satu keasyikan dari HTS adalah adanya kesempatan bagi pelakunya untuk melirik cewek atau cowok lain tanpa harus takut akan ada yang marah.</p>
<p>Peminat HTS kebanyakan adalah remaja yang sedang mencari jati diri dan mencari pengakuan bahwa dirinya berarti bagi orang lain sehingga bisa disukai oleh banyak lawan jenis. Cukup banyak kaum muda yang mau menjalani status ini.  Bagi yang  tertarik akan HTS karena pada dasarnya memiliki jiwa <em>player</em>, hobi tebar pesona kepada lawan jenis, tapi ingin menempuh cara yang aman, HTS merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan. Inisiatif pertama untuk menjalani HTS biasanya datang dari cowok. Hal ini disebabkan cowok cenderung memiliki keberanian lebih untuk mengejar cewek.</p>
<p>Secara umum, pribadi yang menjalani HTS adalah pribadi yang tidak dewasa. Ketidak dewasaan tampak ketika sesorang tidak berani bertanggung jawab akan pilihannya dan berkomitmen menjalani akibat baik maupun buruk akan pilihannya.</p>
<p>Tim muda Kompas mempunyai data kuat mengenai minat ber-HTS yang cukup tinggi. Menurut hasil <em>polling</em> kepada 100 remaja cewek dan cowok, terbukti bahwa 57% responden pernah ber-HTS, sementara sisanya belum pernah. Dari hasil <em>polling</em> tadi dapat diketahui bahwa 27% responden bilang bahwa HTS itu enak, 57% lebih enak pacaran, 2% enakan nikah, dan 14% tidak menjawab (Kompas, 12 Desember 2003 melalui Tabloid Hai, ……..). dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa ternyata kebanyakan remaja menyukai HTS, bagaimanapun resikonya.</p>
<p>Tapi sadar ataupun tidak, tidak selamanya kita bisa hidup dengan ber-HTS, semua pasti ada habisnya. Uniknya bagi beberapa cowok HTS justru dianggap sebagai ajang penjajakan untuk mencari yang terbaik. “Kalau cocok ya lanjut, kalau tidak ya tinggalin aja, sampai dapat yang sesuai tipeku” begitu ungkap Doni yang merupakan salah satu mahasiswa di sebuah universitas di Yogyakarta. Walaupun biasanya HTS hanya untuk sementara, tetapi ada keasyikan tersendiri ketika menjalaninya. Doni mengaku sudah 5 kali ber-HTS, “Semuanya berakhir dengan <em>lost contact</em> ketika aku memilih yang baru untuk ber-HTS, aku memilih untuk tidak lagi menghubunginya karena sudah menemukan yang baru” ungkapnya. Melihat sikapnya itu, pantaslah kalau banyak orang menyebutnya <em>playboy</em>.</p>
<p>Cewek pun tak mau kalah dari cowok. Meskipun terkadang mereka akhirnya menjadi korban sakit hati karena HTS, tetapi, banyak dari mereka yang menyukai HTS. Salah atunya adalah Eli. Remaja 15 tahun ini mengaku sudah 3 kali menjalani HTS. Sedikit berbeda dengan Doni, motivasinya dalam menjalani HTS adalah sekedar untuk mencari kesenangan saja. “ Bisa disayang banyak orang, ada yang merhatiin juga, itu lah mengapa aku memilih HTS” ungkapnya. Tapi namanya juga cewek, walaupun ada kesepakatan awal untuk tidak saling cinta dan tidak ada komitmen, tetapi setiap kali ia ditinggalkan oleh HTS-annya dia selalu sakit hati.</p>
<p>Di balik terjalinnya HTS, ada berbagai penyebab yang patut kamu pahami, faktor-faktor itu antara lain:</p>
<ol>
<li><strong>Faktor internal</strong></li>
</ol>
<p>Faktor internal, datang dari perasaan kedua pasangan. Misalnya, bagi yang sudah memiliki hubungan dan sedang bermasalah, kemudian sering curhat kepada salah satu lawan jenis. Lalu, tanpa disadari benih-benih cinta bersemayam di dalam hati. Hubungan pun tak lagi sekadar pertemanan biasa.</p>
<ol>
<li><strong>Faktor eksternal</strong></li>
</ol>
<p>Faktor eksternal pun turut memacu timbulnya hubungan tanpa status.<br />
Misalnya saja faktor aturan keluarga, yang kurang menyetujui pasangan yang dipilih anaknya. Aturan ini yang membuat anak memilih HTS sebagai pelarian.<br />
3. <strong>Tidak berani berkomitmen</strong></p>
<p>Sejatinya, sebuah hubungan yang sehat membutuhkan sebuah kepastian yang diwujudkan dalam sebuah komitmen. Salah satu pemacu terjalinnya hubungan tanpa status disebabkan salah satu atau kedua pasangan tak ingin membina komitmen.  Sehingga hubungan yang terjalin hanya berdasarkan pada kesenangan semata.</p>
<p>Tetapi ketika seseorang memilih berhubungan tanpa status, maka, sampai kapan pun dia tidak bisa menuntut lebih pada pasangannya untuk melakukan banyak hal. Termasuk juga ketika si dia lebih memilih orang lain sebagai kekasih hati. Kamu pun harus menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Dengan kata lain, jangan memberikan rasa cinta yang berlebih kepada pasangan HTS, karena bagaimana pun, dia bukan milik kita sepenuhnya.</p>
<p>Sebenarnya sah-sah saja HTS, apalagi kalau dipakai untuk mencari pacar yang cocok. HTS itu bisa digunakan untuk menambah wawasan mengenai sifat lawan jenis, memperluas pergaulan, dan belajar hemat (banyak memiliki HTS, tentu memerlukan banyak uang, jadi sekalian belajar hemat). Semua itu bisa berjalan baik tanpa ada sakit hati bila ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Kesepakatan inilah yang harus dipegang erat agar tidak ada pihak yang merasa sakit hati.</p>
<p>Bila kamu sudah mengetahui resiko HTS dan ingin tetap ber-HTS, berikut ada beberapa tips yang harus kita perhatikan agar semua hal dapat berjalan lancar.</p>
<p>Tips HTS</p>
<ol>
<li><em>Just for fun</em></li>
</ol>
<p>Saat menjalani sebuah hubungan tanpa status, kamu tak berhak marah ketika si dia menghilang dari hadapanmu, begitu juga sebaliknya. Agar kamu tak merasa sakit hati saat ditinggalkan, tanamkan dalam hati bahwa hubungan ini sekadar ‘<em>just for fun’</em> saja.</p>
<ol>
<li>Pastikan pasanganmu sealiran.</li>
</ol>
<p>Cari pasangan yang setuju dengan HTS, dengan begitu kamu bisa memberikan perhatian yang besar padanya. Tidak akan ada yang merasa risih dan menunggu ungkapan cintamu.</p>
<ol>
<li>Tahu      batasan HTS</li>
</ol>
<p>Batasan bisa diartikan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sebisa mungkin hindari kontak fisik bisa membuat salah satu pasangan tak lagi menjalani hubungan <em>‘just for fun’</em> melainkan akan memacu tumbuhnya benih-benih cinta diantara kalian berdua. Terkecuali jika secara refleks saat menyeberang jalan, jadi perlu digandeng).</p>
<ol>
<li>Tak ada cemburu</li>
</ol>
<p>Jangan memberi kesempatan rasa cemburu menguasai hati dan pikiranmu, sehingga tak perlu merasa sakit hati ketika si dia dekat dengan orang lain begitu pula sebaliknya. Jika si dia cemburu, ingatkan bahwa kalian hanya menjalin sebuah hubungan tanpa status, tanpa ada ikatan yang jelas. Jadi sudah sewajarnya rasa cemburu tak boleh merasuki hati kalian berdua.</p>
<ol>
<li><em>Never fall in      love</em></li>
</ol>
<p>Sekali kamu jatuh cinta, kamu tidak akan bisa htsan lagi. Lebih baik mundur atau memikirkan hal yang lebih serius.</p>
<ol>
<li>Jangan terlalu      berharap</li>
</ol>
<p>Jika kamu berharap dari hubungan yang tidak memiliki kepastian sudah pasti kamu salah. Oleh karena itu, tak perlu menggantungkan harapanmu pada pasangan begitu tinggi, karena kamu tahu dengan pasti bahwa si dia belum tentu bisa memenuhi semua harapan-harapan anda pada dirinya.</p>
<p>(Dari berbagai sumber (Hai, google),  dan pemikiranku, hehe…, Dimohon kritiknya ya!!!!)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=83&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/13/83/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/gandengan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gandengan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/13/65/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/13/65/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 04:12:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Keponakanku Tersayang (Melania Trisha Kurniawan) Kebahagiaan sebuah keluarga akan semakin terasa ketika semua keluarga berkumpul menjadi satu dan saling menyayangi. Pada mulanya di keluarga kami hanya ada kami berempat, bapak, ibu, mbak, dan aku.  Keluarga kecil yang bahagia, keluarga yang memanjakan aku sebagai anak yang paling kecil. Kebiasaan yang sulit diubah walaupun sekarang sudah dewasa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=65&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><span style="font-weight:bold;">Keponakanku Tersayang</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-weight:bold;">(Melania Trisha Kurniawan)</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-weight:bold;"> </span></p>
<p style="text-align:center;">Kebahagiaan sebuah keluarga akan semakin terasa ketika semua keluarga berkumpul menjadi satu dan saling menyayangi.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0305a2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-73" title="IMG0305A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0305a2.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:left;">Pada mulanya di keluarga kami hanya ada kami berempat, bapak, ibu, mbak, dan aku.  Keluarga kecil yang bahagia, keluarga yang memanjakan aku sebagai anak yang paling kecil. Kebiasaan yang sulit diubah walaupun sekarang sudah dewasa. Umurku dan kakaku terpaut jauh, sehingga wajar kalau sekarang dia sudah berkeluarga, sedangkan aku masih kuliah.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0288a1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-74" title="IMG0288A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0288a1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>Kami tinggal di sebuah dusun yang bernama Patihombo, sebuah daerah yang sudah banyak aku tuliskan menjadi beberapa tulisan. Tulisan-tulisan itu adalah bukti cintaku akan daerah kelahiranku. Sebuah dusun yang jauh dari keramaian, asri, penuh dengan rasa gotong royong, dan masih banyak lagi kelebihan lainnya. Aku dilahirkan dan dibesarkan di sana. Inginku adalah bisa ikut memajukan daerah itu.</p>
<p style="text-align:left;">Dengan berjalannya detik, menit, jam, hari, kini, aku tidak lagi menjadi yang terkecil di keluargaku. Dulunya selalu dianggap anak kecil, tidak bisa dewasa, dan sebagainya. Tetapi sekarang, ada makhluk kecil yang  meramaikan suasana rumah. Ya, keponakanku yang pertama, Melania Trisha Kurniawan, yang lahir 4 Maret 2009. Cucu pertama, anak pertama, keponakan pertama, membuat dia sangat istimewa bagi kami.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0229a1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-75" title="IMG0229A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0229a1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> Trisha terlahir dari pasangan Hendry Kurniawan dan Trismi Rubiyanti, kakakku. Sekarang, umurnya sudah satu tahun, ada banyak hal yang ia lakukan yang selalu membuat rumah ramai, tingkahnya yang lincah, suaranya yang ramai, dsb. Kelincahannya bahkan membuat yang mengasuh lelah sendiri, tetapi dia tidak pernah merasa lelah. Terakhir aku pulang kemarin, sewaktu dia tidur, dia menangis terus menerus, ternyata dia terlalu lelah bergerak sepanjang hari. Aku berinisiatif untuk memijitinya, tetapi ternyata dia malah tambah keras menangis. Terbukti memang aku ga bakat jadi <span style="font-style:italic;">baby sister</span> untuknya.</p>
<p style="text-align:left;">Ada banyak orang mengatakan ia mirip denganku. “Wah bertambah donk satu lagi makhluk cantik di dunia, menyaingi tantenya, hahaa…” begitu ungkap temanku. Aku tidak tahu itu benar ataupun tidak, tetapi memang ada kemiripan antara aku dengan dia, namanya juga keluarga. Bahkan orang pun sulit membedakan antara aku dan ibunya Trisha. “Seperti kembar”  kata mereka.</p>
<p style="text-align:left;">Trisha, bayi kecil itu buatku begitu lucu dan menggemaskan. Kulitnya putih seperti papanya, hidung seperti neneknya yang agak pesek, mata besar seperti ibunya, bibir manis seperti tantenya. Kalau boleh aku menilai, Trisha itu cantik. Jika ia besar nanti, tentu ia akan menjadi seorang gadis yang cantik dan lincah.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0148a3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-80" title="IMG0148A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0148a3.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Pada usianya yang pertama, ada acara kecil untuknya. Kakek, nenek, dan keluarga lain berkumpul untuk mendoakan Trisha kecil agar selalu diberi kesehatan dan berkat. Seperti tradisi pada keluarga kami, bayi yang sedang berulang tahu selalu dibuatkan among-among (nasi yang disusun sedemikian rupa beserta sayur kluban ditambah rebusan telur yang dipotong kecil-kecil.</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin, ia masih terlalu kecil untuk memahami apa arti kedatangan saudara-saudara untuk meramaikan acara ulang tahunnya. Seperti biasa dia ngotot untuk merangkak ke mana-mana seperti biasa sambil berteriak-teriak kata yang baru bisa ia ucapkan. “Mbah, Papa, Mama, baru kata-kata itu yang ia kuasai sekarang. Lucu sekali keponakanku itu.</p>
<p style="text-align:left;">Di akhir tulisan ini, aku berharap Trisha bisa tumbuh menjadi anak yang sehat, berbakti pada orang tua, dan berguna bagi bangsa dan Negara. Amin… Tante sayang kamu Sa.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0337a2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-81" title="IMG0337A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0337a2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:left;">
<ol style="text-align:left;">
<li>Trisha</li>
<li>Trisha      dan aku</li>
<li>Trisha      dan papa mamanya.</li>
<li>Trisha      dan Simbah putri</li>
<li>Trisha      dan mamanya</li>
</ol>
<p style="text-align:left;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=65&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2010/03/13/65/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0305a2.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0305A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0288a1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0288A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0229a1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0229A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0148a3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0148A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/03/img0337a2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0337A</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Goa Maria 2009</title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2010/02/01/ekspedisi-goa-maria-2009-2/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2010/02/01/ekspedisi-goa-maria-2009-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 01:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[goa maria di DIY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Gua Maria Lawangsih Satu lagi kekayaan alam yang ada di Stasi Pelem Dukuh yang selama ini tidak banyak diperhatikan orang, kekayaan itu adalah Gua Maria Lawangsih. Gua ini terletak di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, kecamatan Girimulyo, Kabubaten Kulon Progo, sekitar 35 km dari kota Yogyakarta. Gua Maria Lawangsih adalah Gua Maria yang menjadi sebuah kesatuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=26&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong><strong>Gua Maria Lawangsih</strong></strong></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"><strong><strong><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/01/img0107a.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-57" title="IMG0107A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/01/img0107a.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><br />
</strong></strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong> </strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:left;">Satu lagi kekayaan alam yang ada di Stasi Pelem Dukuh yang selama ini tidak banyak diperhatikan orang, kekayaan itu adalah Gua Maria Lawangsih. Gua ini terletak di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, kecamatan Girimulyo, Kabubaten Kulon Progo, sekitar 35 km dari kota Yogyakarta.</p>
<p style="text-align:left;">Gua Maria Lawangsih adalah Gua Maria yang menjadi sebuah kesatuan dari Gua Maria Pangiloning Leres, karena berada di stasi yang sama, yaitu stasi Pelem Dukuh.  Letak gua ini tidak terlalu jauh dari Gua Maria Pangiloning Leres, hanya saja posisinya yang agak jauh dari jalan utama membuatnya tidak banyak dikenal masyarakat.  Gua alami ini bisa dikatakan memiliki beberapa kelebihan bila dibandingkan dengan Gua Maria Pangiloning Leres yang juga terdapat di Stasi Pelem Dukuh. Beberapa kelebihan itu adalah bentuknya yang besar dan memiliki sumber mata air alami yang tidak dimiliki oleh Goa Maria Pangiloning leres.</p>
<p style="text-align:left;">Gua ini masih alami, susunan bebatuan gua adalah  murni ciptaan Tuhan tanpa campur tangan manusia.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0440a1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-94" title="IMG0440A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0440a1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Seperti yang kita ketahui, tidak banyak tempat doa yang berupa goa yang merupakan gua alami. Kalau pun ada, tidak sebanyak goa buatan, hal inilah yang membuat Goa lawangsih menjadi istimewa.</p>
<p style="text-align:left;">Gua ini cukup besar, pada bagian atas gua terdapat beberapa tumbuhan yang tumbuh dengan suburnya, lengkap dengan sungai kecil yang mengalir di dalam gua dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah. Kesan pertama ketika kita datang adalah suasana hening yang menyejukkan hati, jauh dari keramaian. Suara gemericik air, kicauan burung, tiupan angin, udara yang sejuk akan membuat kita semakin mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Suasana ini lah yang membawa kita pada suatu situasi yang sangat mendukung bila ingin memanjatkan doa kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0122a.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-60" title="IMG0122A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0122a.jpg?w=300&#038;h=189" alt="" width="300" height="189" /></a> Sejauh mata memandang, kita akan menyaksikan rindangnya pohon dan hamparan sawah yang menghijau. Sesekali kicau burung yang bernyanyi memanjatkan syukur kepada Sang Pencipta juga terdengar. Di bawah gua, terdapat sungai yang mengalir membelah dusun. Jauh dari kesan sungai di kota pada umumnya, karena sungai ini begitu jernih walaupun telah melewati luasnya hamparan ladang warga. Air ini tidak biasa digunakan untuk minum, tetapi digunakan untuk kebutuhan pengairan sawah penduduk. Walaupun terkadang dulunya bila sumber-sumber air sudah mengering, sungai ini digunakan untuk mencukupi semua kebutuhan warga.</p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">Salah satu fasilitas yang sudah dimiliki oleh gua lawangsih adalah adanya kamar mandi untuk dimanfaatkan oleh  penduduk maupun peziarah. Air tersebut adalah air yang berasal  dari dalam gua yang jernih. Air dari kamar mnandi tersebut biasa digunakan untuk minum ataupun memenuhi semua kebutuhan hidup penduduk sekitar. Jadi sungai kecil di bawah gua yang dulunya dipergunakan untuk mandi, Sekarang dikhususkan untuk mengairi sawah.</p>
<p style="text-align:left;">Gua ini sebelumnya adalah milik Ketua Stasi Pelem Dukuh yaitu Bapak Th. Supino yang kemudian diberikan hak pakainya kepada Gereja sebagai tempat berdoa. Pembangunan gua alami ini menjadi tempat berdoa adalah atas inisiatif romo paroki pada waktu ini yaitu Romo Slamet Pr. Selain itu, keinginan umat untuk memiliki tempat berdoa di tempat terbuka dan memiliki sumber air, begitu besar, sehingga membuat hibah Goa Maria dari ketua stasi menjadi suatu pilihan yang menarik untuk ditindak lanjuti. Langkah yang diambil pihak stasi adalah dengan dibangunnya goa tersebut menjadi suatu tempat berdoa yang diinginkan umat.</p>
<p style="text-align:left;">“Pembangunan gua ini dimaksudkan untuk melengkapi adanya Gua Maria Pangiloning Leres yang terletak di atas bukit” ungkap Ibu Ngatilah. Saat ini, Gua maria Lawaningsih belum selesai dikerjakan pembangunannya. “Warga Pelem Dukuh sendiri yang bergotong royong meratakan pelataran gua agar bisa dijadikan tempat berdoa. Pembangunan telah dimulai pada bulan September 2009.</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0428a.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-95" title="IMG0428A" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0428a.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>Kini, sudah dibangun sebuah altar yang teduh karena sudah berupa bangunan beratap dan juga sebuah pendopo kecil yang sederhana untuk berteduh bila panas maupun hujan. Pendopo ini terletak di dekat tangga masuk areal gua, meskipun sederhana, tetapi sangat bermanfaat bila ada peziarah yang ingin beristirahat. Tentu saja pendopo ini akan disempurnakan nantinya, sambil menunggu adanya dana. Untuk saat ini,  pendopo sederhana itu sudah lebih dari cukup.  Selain itu, ruang depan gua dan lorong di sisi  gua yang cukup luas juga bisa dimanfaatkan untuk berteduh karena terlindung oleh bebatuan gua yang indah. &#8220;Faktor dana adalah salah satu kendalanya meskipun telah dibantu oleh sumbangan dana dari para donatur dan dana dari umat sendiri” tambah Bapak Wakidi.</p>
<p style="text-align:left;">Misa pertama pada gua ini telah dilakukan pada bulan Desember tahun 2009. Tempatnya yang luas membuat umat tidak perlu terlalu berdesakan. Letaknya yang berada di dekat perkebunan warga menambah asrinya Gua Maria ini. Rencananya dari Gua Maria Lawangsih akan dibangun tempat untuk jalan salib menuju Puncak Golgota yaitu Gua Maria Pangiloning Leres yang teletak di puncak bukit, disanalah jalan salib akan berakhir.</p>
<p style="text-align:left;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=26&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2010/02/01/ekspedisi-goa-maria-2009-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<georss:point>-7.797224 110.368797</georss:point>
		<geo:lat>-7.797224</geo:lat>
		<geo:long>110.368797</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/01/img0107a.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0107A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0440a1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0440A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0122a.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0122A</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2010/02/img0428a.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG0428A</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Goa Maria 2009</title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2009/05/29/ekspedisi-goa-maria-2009/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2009/05/29/ekspedisi-goa-maria-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 09:09:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[goa maria di DIY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Goa Maria Pangiloning Leres Mengingat tempatnya yang jauh dan terpencil dari kota Yogyakarta, wajar bila Goa Maria Pangiloning Leres tidak banyak dikenal oleh masyarakat di luar Stasi Pelem Dukuh. Medan yang cukup yaitu jalan turun naik yang agak curam dan rusaknya sebagian jalan menjadi alasan sedikit orang berkunjung ke Goa Maria Pangiloning Leres. Padahal, ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=27&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Goa Maria Pangiloning Leres</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><img class="size-medium wp-image-31 aligncenter" title="Img00054" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000541.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Img00054" width="300" height="225" /></span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong>Mengingat tempatnya yang jauh dan terpencil dari kota Yogyakarta, wajar bila Goa Maria Pangiloning Leres tidak banyak dikenal oleh masyarakat di luar Stasi Pelem Dukuh. Medan yang cukup yaitu jalan turun naik yang agak curam dan rusaknya sebagian jalan menjadi alasan sedikit orang berkunjung ke Goa Maria Pangiloning Leres. Padahal, ada banyak hal-hal yang menarik terdapat di sana. Hal yang hanya terdapat di Stasi Pelem Dukuh, Stasi yang kaya akan pemandangan alam yang asri dan goa alami nan indah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Goa Maria Pangiloning Leres adalah salah satu tempat ziarah bagi umat Katholik yang terdapat di perbukitan Menoreh. Goa Maria ini terletak di Desa Purwosari, tepatnya di Stasi Santa Maria Fatima Pelem Dukuh, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, kira-kira 35 km dari Kota Yogyakarta. Stasi Santa Maria Fatima Pelem Dukuh sendiri adalah bagian dari Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan. Paroki Nanggulan merupakan sebuah paroki besar yang membawahi 4 wilayah dengan 19 lingkungan kecil di dalamnya, juga satu stasi yang direncanakan akan segera menjadi sebuah paroki sendiri yaitu Stasi Pelem Dukuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Pada mulanya, sebelum dijadikan tempat berdoa, Goa Maria ini merupakan sebuah goa alami biasa yang terletak di atas bukit. Letaknya kebetulan berada di atas gereja Santa Maria Fatima Pelem Dukuh. Menurut Bapak Wakidi, seksi Katekese di Stasi Pelem Dukuh, ada sebuah legenda yang tercipta dari goa alami ini. Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “<em>benjaran</em>” yang berarti tempat minum kuda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Pada perkembangan iman umat katholik di stasi pelem dukuh yang semakin meningkat, (perlu diketahui bahwa hampir semua warga di daerah ini memeluk agama katholik) semakin besar pula keinginan untuk mendekatkan diri pada Tuhan melalui Bunda Maria. Keinginan inilah yang membuat Romo paroki pada waktu itu yaitu Romo Adi Wardoyo Pr. dan Romo Suharto Widodo Pr. berinisiatif menjadikan goa di atas bukit tersebut menjadi sebuah tempat ziarah umat Katholik. Pertimbangan lain para romo tersebut adalah jauhnya tempat ziarah lain bagi umat Katholik di Pelem Dukuh. Inisiatif ini disambut baik oleh warga, dan jadilah sebuah tempat ziarah yang terdapat di Stasi Pelem Dukuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Nama Pangiloning Leres sendiri di ambil dari bentuk Goa Maria yang seperti cermin (<em>pengilon</em>), sedangkan bila digabungkan antara nama “<em>pengilon” </em>yang berarti cermin dan <em>“leres”</em> yang berarti benar menjadikan nama goa maria tersebut memiliki makna yang mendalam yaitu tempat bercermin atas suatu kebenaran. Goa maria pangiloning leres diberkati pertama kali oleh Romo Adi Wardoyo sekitar tahun 1994 dan kemudia diberkati oleh Uskup Agung semarang yaitu Uskup Mgr. Ignasius Suharyo. Pemberkatan ini dilakukan ketika beliau memberikan Sakramen Krisma pada tahun 1998.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">“Bila dilihat dari bawah, Goa Maria ini nampak seperti bahtera. Bahtera Nabi Nuh yang pada zaman dahulu telah menyelamatkan manusia dan mahkluk-makhluk lainnya di atas bumi dari air bah” ungkap bapak Wakidi. Bentuk bahtera ini kemudian semakin disempurnakan dengan adanya patung Kristus Raja Semesta Alam sebagai nahkoda bahtera tersebut. Patung ini adalah sumbangan dari romo paroki pada masa itu yaitu Romo Antonius Tri Wahyono Pr. Sekarang, lengkap sudah penampilan bahtera tersebut, ada Tuhan Yesus sebagai nahkoda yang selalu memberkati semua umat Katholik di Stasi Pelem Dukuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-37" title="Img00050" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000501.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Img00050" width="300" height="225" /></p>
<p><strong><span style="font-size:14pt;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Pembangunan terbaru untuk menyempurnakan tata ruang dari Goa Maria ini adalah pembangunan sebuah pendopo sebagai tempat berdoa dan digunakan sebagai altar bila hendak melaksanakan Misa. Adapula sebuah Goa Maria baru yaitu Goa Maria Lawaningsih yang dibangun sebagai tempat berziarah umat katholik. “Pembangunan ini dibiayai oleh Pak Erik, seorang donatur dari Jakarta dan swadaya dari umat Pelem Dukuh sendiri” ungkap Ibu Ngatilah yang juga menjabat sebagai seksi liturgi di Stasi Pelem Dukuh. Kelengkapan sarana prasarana yang melengkapi penampilan Goa Maria ini membuat semakin khusuknya kita dalam berdoa dan memuliakan tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Gereja Santa Maria Fatima</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-41" title="Img00033" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img00033.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Img00033" width="300" height="225" /><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong> </strong>Dari luar, Gereja Santa Perawan Maria nampak seperti Gereja kebanyakan. Sekilas tak akan terlihat keistimewaannya bila dibandingkan dengan Gereja lain. Bila kita melihat segi arsitekturnya, mungkin saja akan kalah bila dibandingkan dengan gereja yang terdapat di kota besar lainnya. Namun, bila kita masuk ke dalam Gereja kita akan melihat beberapa lukisan yang indah dimana Gerbang Kerajaan Surga tergambar indah di dinding. Adapula kisah pembangunan yang penuh perjuangan karena Gereja sulit mendapatkan tanah pada waktu itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Menurut Bapak Wakidi, awal berkembangnya iman Kristiani di Stasi pelem Dukuh adalah pada tahun 1929. Benih iman di Pelem Dukuh  dimulai dengan dibaptisnya beberapa orang di daerah Dangsambuh oleh Romo Prennthaler, S.J., dan Romo Satiman, S.J. Pada awalnya, misa dilakukan di rumah Bapak Martowiharjo yang kebetulan adalah mertua dari Bapak Wakidi. Misa pertama yang dilakukan di wilayah Pelem adalah misa yang sederhana karena rumah yang digunakan juga sangat sederhana. Seiring bertambahnya umat, Romo Prennthaler, S.J., memutuskan untuk pindah ke rumah Bapak Paulus Kromo Martono yaitu pada tahun 1948. Tempat ibadah berpindah dari daerah Pelem ke Dukuh yaitu di rumah Bapak Paulus Kromo Martono. Hal ini disebabkan karena semakin banyak orang yang dibaptis dari sekitar tempat itu. Pertambahan umat banyak terjadi di Dusun Patihombo dan Jatiroto.<br />
Sekian lama menumpang di rumah umat sebagai tempat beribadah, membuat umat ingin memiliki bangunan gereja sendiri. Romo yang mengusahakan pembelian tanah adalah Romo Joyosewoyo. Awalnya, Romo dan umat memutuskan untuk membeli tanah seluas 1000 meter di daerah Sabrang Kidul sebagai Gereja. Kurangnya perhitungan membuat pembangunan gereja tidak bisa dilanjutkan, hal ini dikarenakan tanah yang dibeli oleh Gereja adalah tanah bermasalah atau yang biasa disebut tanah Pulosroyo. Gagalnya pembangunan tak menyurutkan niat umat, tak lama berselang mereka memilih tanah di daerah Munggang Dowo. Namun, pembangunannya pun tak diteruskan entah karena alasan apa. Sementara umat sudah mulai meratakan tanah di sana.<br />
Pada akhirnya, Tuhan pun memberkati umat Pelem Dukuh untuk mendapatkan tanah sebagai Gereja, tempat umatnya berdoa memuliakan namanya. Pada masa kepemimpinan Romo Santo Seputro dipilihlah tempat mendirikan kapel yang lebih permanen yaitu dengan menggunakan tanah OO (tanah Oro-oro), artinya tanah pangonan yaitu tanah yang pada saat rajangan (pembagian tanah) tidak diminati oleh rakyat. Tanah ini merupakan tanah yang dimiliki oleh kasultanan, dengan status Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai oleh Gereja. Terpilihnya tempat tersebut menjadikan umat memiliki gereja tersendiri untuk merayakan Ekaristi yang pada waktu itu dilakukan setiap 35 hari sekali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Renovasi<em> pertama</em> Gereja Santa Maria Fatima Pelem Dukuh dilakukan pada tahun 1986. Pada waktu itu Romo paroki yang merencanakan renovasi besar itu adalah Romo Adi Wardoyo, Pr. Bentuk joglo ditinggalkan dan diubah menjadi bentuk kampung. Bangunan hampir mendekati gereja-gereja barat dengan menempatkan lonceng dibagian depan gereja. Renovasi <em>kedua</em> dilakukan pada tahun 2002 yaitu dengan memperluas Gereja dan meninggikan atap. Bentuk altar juga agak ditinggikan, lantai altar diganti menjadi keramik dan ditambahkan pula balkon guna menampung banyaknya umat yang datang. Tempat pengakuan dosa juga diperbaiki agar nampak lebih indah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-43" title="Img00040" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000401.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Img00040" width="225" height="300" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Arsitektur yang digunakan oleh gereja baru ini lebih menarik daripada sebelumnya. Penataan batu-batu alami di sisi barat gereja menambah asrinya gereja ini. Pemertahanan bentuk alami batu kapur tanpa tembok ini adalah sesuai dengan anjuran Romo Yb. Mangun Wijaya yang merupakan arsitek handal. Pada waktu renovasi terakhir yaitu pada tahun 2002, ditambahkan lukisan-lukisan yang menggambarkan kerajaan surga di belakang altar, lukisan rusa dengan hamparan rumput yang luas menghijau juga terpampang di sebelah kiri altar, di belakang patung Bunda maria.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Keistimewaan Gereja ini ditambah dengan adanya dua Goa Maria alami yang terdapat disekeliling Gereja. Bila dibandingkan dengan tempat lain, tidak selalu setiap Gereja memiliki kekayaan tempat berdoa seperti di stasi kami, Stasi Pelem Dukuh. Banyaknya umat yang semakin bertambah setiap tahunnya membuat semakin lengkapnya cita-cita para pendahulu yang sudah merintis iman yang ada di daerah Pelem Dukuh dan sekitarnya.<strong><span style="font-size:14pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Sendang Sono</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-44" title="Img00095" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img00095.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Img00095" width="300" height="225" /><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Goa Maria Sendang Sono merupakan Goa Maria yang cukup diperhitungkan di indonesia. Goa Maria ini terletak di perbukitan menoreh, tepatnya di Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Sebutan Lourdesnya Indonesia membuatnya menjadi salah satu Goa maria yang banyak dikunjungi oleh para peziarah yang datang dengan berbagai permohonan melalui Bunda maria.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sebelum tempat itu dijadikan sebagai Goa Maria, tempat ini terbilang mistis, menurut cerita dari Bapak Pawiro Sumito Salah seorang pegawai kebersihan di sana, dahulu kala pohon sono dihuni oleh sepasang makhluk halus yaitu Den bagus Sanijo dan Dewi Lantam Sari. Dua makhluk halus inilah yang membuat masyarakat takut untuk datang di tempat ini. Namun, setelah diberkati oleh Romo Prennthaler, S.J., tempat ini tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan karena kedua makhluk halus tersebut telah diusir pergi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Cerita mengenai Sendang sono tak terlepas dari cerita mengenai tokoh agama dari Kalibawang yaitu Bapak Barnabas Sarikromo. Berkat jasanya, banyak warga Kalibawang dan sekitarnya mengimani iman akan Yesus kristus. Ia juga beperan aktif dalam pembangunan goa ini, ia dan murid-muridnya yang mengumpulkan bahan-bahan pembuat gua yaitu batu kapur. Sendang Sono diberkati pertama kali yaitu pada tanggal 8 Desember 1929 oleh Romo Prennthaler, S. J., yaitu pada perayaan 75 tahun peresmian Ibunda Maria tak ternoda. Semenjak saat itu, Sendang Sono resmi menjadi tempat ziarah bagi umat Kristiani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bila kita melihat arsitektur lingkungan dan bangunan disekitar Goa Maria, tentu kita akan merasa takjub akan keindahan penataan lingkungannya. Tak mengherankan memang karena sang arsitek Goa Maria ini adalah Romo Yb. Mangun Wijaya, seorang arsitek yang handal. Berkat kepandaiannya dalam menata Goa Maria Sendang Sono, ia mendapatkan penghargaan di bidang arsitektur yaitu Piagam Agam Khan Award.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sendang Sono terdiri atas beberapa bangunan, antara lain Kapel Para Rasul, aula, altar, Goa Maria, tempat jalan salib, dan masih banyak lagi bangunan lain. Keasrian Sendang Sono tampak terjaga dengan baik dengan dipertahankannya pohon sono yang terdapat di dekat goa. Adapula sumber mata air pembaptisan pertama yang dilakukan pada oleh Romo Van Lith tetap terjaga dengan baik. Air itu dialirkan ke dalam kran-kran air yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh peziarah untuk digunakan sebagai air suci.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Penataan dan perawatan yang baik membuat pengunjung menjadi merasa nyaman dalam berdoa, di antaranya adalah Bapak Jusuf Christanto yang merupakan seorang penulis. Dia sering datang ke Sendang Sono dan meminta berkat atas segala usahanya. “Semenjak saya sering dating kesini, hidup saya menjadi menjadi semakin damai dan usaha saya juga terberkati” ungkapnya. Dia juga sering mendapatkan ide akan tulisannya dari kebiasaanya berdoa di Sendang Sono.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Saat ini, pemeliharaan terhadap Sendang Sono tetap terjaga, ada 4 pegawai yang dengan setia membersihkan lingkungan Goa maria ini. Bapak Pawiro Sumito adalah salah satu di antaranya. Saat peziarah ramai seperti bulan Mei dan Oktober, pekerjaan mereka menjadi semakin bertambah. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan dalam rangka menyambut tamu-tamu tuhan yang akan berdoa memohon berkat padanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Berkat Bagi Warga Sekitar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><img class="aligncenter size-full wp-image-47" title="Foto055" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/foto0552.jpg?w=120&#038;h=160" alt="Foto055" width="120" height="160" /><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sendang Sono bukan hanya memberikan berkat bagi para peziarah, tetapi juga memberikan berkat berupa rejeki bagi warga sekitar Sendang Sono. Banyak di antara warga sekitar yang memanfaatkan kunjungan peziarah dengan membuka toko, baik itu toko makanan ataupun perlengkapan beroa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Bila kita memasuki kawasan Sendang Sono, bukanlah hal yang aneh lagi bila kita melihat berrbagai pedagang memenuhi jalan masuk. Ada berbagai macam dagangan yang ditawarkan, mulai dari lilin, rosario dan masih banyak lagi. Bagi mereka adanya Sendang Sono telah memberikan mereka pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Salah satu penjual itu adalah Yanto dia berdagang makanan berupa bakso dan tongseng. Dia adalah cucu dari pemilik warung tersebut, pemilik warung sendiri adalah kakeknya yang telah berdagang di Sendang Sono sejak 30 tahun lalu. “Pekerjaan ini hanyalah sampingan, pekerjaan utama kami adalah bertani palawija. Jadi jika pengunjung sendanhgsono sedang sepi, saya dan keluarga saya beralih pada profesi awal yaitu sebagai petani” jelasnya ketika saya menanyakan pekerjaan mereka bila peziarah Sendang Sono sedang sepi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Lain lagi dengan Suradi salah seorang penjual Rosario, dia mengaku berjualan bila masa pengunjung sedang ramai. “Pada bulan-bulan biasa selain bulan Mei dan Oktober, saya memilih berjualan pada hari sabtu Minggu saja. Hari lain saya gunakan untuk menekuni pekerjaan utama saya yaitu sebagai petani” jelasnya. Banyak pula ibu-ibu tua yang menjajakan dagangannya berupa makanan khas dari daerah Kalibawang, antara lain klethik, kacang, dan banyak makanan lain. Begitu banyaknya penjual membuat bingung pengunjung untuk memutuskan tempat mana yang akan mereka pilih sebagai tempat berbelanja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Adapula seorang ibu yang bertugas membersihkan lilin bekas yang telah meleleh di atas batu juga mendapatkan rejeki. Pekerjaannya membersihkan bekas lilin itu mendatangkan rejeki pula baginya karena lilin tersebut akan dijual dan ia mendapatkan penghasilan dari lilin tersebut. Sebuah pekerjaan yang mulia dimana tidak semua orang mau dan rela mengrjakannya tanpa dibayar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tukang parkir pun tak kalah untungnya, hanya dengan menjaga parkiran mereka mendapatkan penghasian untuk menyambung kehidupan keluaga. Biaya parkir sebesar Rp. 1000,00 bisa menjadi penghasilan yang besar karena pengunjung Goa Maria pada bulan-bulan mei dan Oktober sangat ramai. Demikianlah ternyata dengan adanya Goa Maria, tak hanya iman umat yang semakin berkembang, tetapi penghidupan warga sekitar Sendang Sono pun terbantu. Jadi, Sendang Sono bisa dikatakan menjadi tempat yang penuh berkat bagi banyak orang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Mata Air Pembaptisan Pertama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><img class="aligncenter size-full wp-image-48" title="Foto036" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/foto036.jpg?w=455&#038;h=606" alt="Foto036" width="455" height="606" /><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Mata air pembaptisan pertama yang dilakukan oleh Romo Van Lith kini menjadi salah satu daya tarik di Sendang Sono. Kalaupun di tempat lain ada, tak akan ada yang menyamai nilai sejarah mata air ini. Mata air yang memberkati benih-benih iman di daerah Kalibawang dan sekitarmya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pembaptisan pertama yang dilakukan oleh Romo Van Lith pada tahun 1904 terhadap 173 orang Katholik pertama merupakan peristiwa penting dari Sendang Sono. Mata air di bawah pohon sono itu menjadi bagian penting yang perlu diperhitungkan dari Sendang Sono. Pada mulanya mata air yang dilindungi oleh semak belukar ini menjadi suatu mata air suci yang banyak digunakan sampai sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sekarang, kita bisa melihat mata air yang pada mulanya hanyalah mata air biasa itu menjadi sebuah sendang yang terawat dengan prasasti dan banyak ayat-ayat kitap suci yang tertulis di atasnya. Sendang tersebut masih bisa kita lihat airnya karena penutupnya adalah kaca yang tembus pandang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Air dari sumber pembaptisan pertama itu sekarang banyak digunakan oleh para peziarah baik sebagai air suci maupun sebagai pembasuh muka yang kelelahan melalui perjalanan jauh. Seperti yang kita ketahui air tersebut adalah air yang terberkati. Jadi dengan adanya air tersebut kita bisa mendapatkan banyak berkat pula.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Goa Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-50" title="Img00053" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000532.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Img00053" width="300" height="225" /><br />
</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:14pt;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Satu lagi gua buatan yang terdapat di Yogyakarta, tepatnya di Jitar Pingitan. Goa ini adalah goa dengan sumber mata air alami. Bisa dikatakan goa ini adalah salah satu persembahan dari salah satu keluarga yang ada di daerah Jitar Pingitan, yaitu keluarga Purwowidono.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Kisah Goa Maria Ratu Perdamaian dimulai dangan kisah Bapak Purwowidono yang mengalami cobaan berat dalam hidupnya. Cobaan itu dirasakan berat karena anak pertama yang mereka kasihi yaitu Aloysius Arcahya Ariandana mengalami penyakit hydrocephalus atau pembengkakan pada kepala yang menyebabkannya lumpuh dan tidak bisa banyak beraktifitas sepanjang hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Cobaan demi cobaan yang dialami keluarga Purwowidono ini membuat Bapak Purwowidono mempunyai keinginan untuk menyumbangkan tanahnya yang terletak di atas Sungai Progo untuk dijadikan Goa Maria. Tanah seluas 800 m itu disumbangkan pada gereja sebagai ucapan syukur atas berkat yang dikaruniakan tuhan kepadanya berupa penghiburan dan dukungan dari banyak saudara-saudaranya walaupun putra mereka tetap lumpuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Pembangunan awal Gua Maria ini melibatkan banyak umat di sekitar Jitar Pingitan, pembangunan ini dimulai pada tahun 1984. Dibentuk juga panitia pembangunan yang dimulai dengan membangun sendang, membuat goa sampai meletakkan patung Bunda Maria. Goa Maria ini diberkati pertama kali pada tanggal 8 September 1986 oleh JB. Mardi Kartono S. J. Renovasi <em>pertama </em>dilakukan pada tahun 1999. Pada masa renovasi tersebut, banyak sarana prasarana yang ditambah sehingga memperindah pemandangan. Baru setelah selesai direnovasi, Goa maria tersebut diberkati oleh Uskup Agung Semarang yaitu Mgr. Igr. Suharyo beserta penandatanganan prasasti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Sekarang, bila kita berkunjung ke sana, kita akan mendapatkan kesejukan dari rindangnya pohon yang menaungi gua tersebut. Ditambah lagi dengan adanya aula Santo Aloysius yang membuat umat tidak perlu berpanas-panas lagi bila ingin berdoa. Aula santo Aloysius dibangun sebagai peringatan akan Aloysius Arcahya Ariandana putra Bapak Purwowidono yang memberikan warna dalam kelurga tersebut walaupun kini dia sudah meninggal akibat sakit stroke.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Semangat Aloysius yang tulus mencintai keluarganya memberikan kita suatu pelajaran akan rasa syukur atas semua yang telah kita miliki. Dengan segala kekurangannya, Aloysius tetap bisa membuat keluarganya tersenyum dan berbahagia, tanpa mengeluh akan keadaanya. Semangat menerima itulah yang harus ada dalam diri kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;">Lingkungan Sekitar Jatiningsih</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:14pt;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Tak lengkap adanya suatu Goa maria tanpa adanya penjual alat-alat sebagai perlengkapan doa. Begitu juga di sekitar goa maria ratu perdamaian sendang jatiningsih. Memang tidak begitu banyak pedagang, tetapi bisa dikatakan cukup banyak bila ingin berbelanja segala perlengkapan doa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Begitu memasuki areal parker kita sudah bisa melihat tiga pedagang yang menjajakan dagangannya. Pada umumnya mereka tidak hanya berdagang satu jenis barang saja. Sebagai contoh Mbah Mitro yang berjualan makanan dan perlengkapan doa. Dia telah berdagang di situ selama 5 tahun. “Bila pengunjung sedang sepi, saya memilih untuk berdagang pada hari Sabtu dan Minggu saja” ungkapnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Hal itu dapat dimaklumi mengingat goa ini terbilang lebih sepi bila dibandingkan dengan Sendang Sono. Walaupun tidak seramai Sendang Sono, tetapi banyak pula pengunjung yang berasal dari luar daeah Jitar Pingitan. Salah satunya adalah Deni, mahasiswa asal Yogyakarta yang berdoa disana bersama dengan kekasihnya. “Berdoa disini lebih dekat dari Yogyakarta, saya lebih sering datang ke sini bila dibandingkan dengan sendang sono yang terbilang jauh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">Adanya fasilitas yang memadai di sekitar Goa Maria ini membuat peziarah menjadi lebih nyaman dalam berdoa. Disediakan beberapa tempat duduk panjang di dekat goa. Terdapat pula kapel, aula, dan sumber air suci yang bisa digunakan baik sebagai air suci. Bisa dikatakan walaupun masih terbilang baru, tetapi goa ini bisa dijadikan referensi yang bagus dalam peziarahan kita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=27&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2009/05/29/ekspedisi-goa-maria-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000541.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Img00054</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000501.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Img00050</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img00033.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Img00033</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000401.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Img00040</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img00095.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Img00095</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/foto0552.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto055</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/foto036.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Foto036</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2009/05/img000532.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Img00053</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika UN Membuat Jantung Berdebar</title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/ketika-un-membuat-jantung-berdebar/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/ketika-un-membuat-jantung-berdebar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ujian Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[  Ujian Nasional (UN) SMA/SMK dan sederajat telah dilaksankan di seluruh Nusantara pada hari Selasa-Kamis (22-24/4) berlangsung dengan menegangkan. Sudah bukan menjadi barang baru lagi ketika ujian nasional diwarnai dengan isu-isu bocornya soal dan penggantian LJK yang dilakukan oleh oknum guru. Di SMA SANTA MARIA Yogyakarta beberapa siswa mengatakan resah dengan mata pelajaran Matematika. “Menurut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=23&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/dsc088461.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-24" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/dsc088461.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> </p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ujian Nasional (UN) SMA/SMK dan sederajat telah dilaksankan di seluruh Nusantara pada hari Selasa-Kamis (22-24/4) berlangsung dengan menegangkan. Sudah bukan menjadi barang baru lagi ketika ujian nasional diwarnai dengan isu-isu bocornya soal dan penggantian LJK yang dilakukan oleh oknum guru.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di SMA SANTA MARIA Yogyakarta beberapa siswa mengatakan resah dengan mata pelajaran Matematika. “Menurut saya, Matematika yang menjadi momok saat ini, dari beberapa <em>try</em> <em>out,</em> hanya Matematika yang tidak bisa saya kerjakan dengan baik, itu yang membuat saya resah dan takut. Ketika UN pun saya dan teman-teman merasa takut tidak dapat mencapai target” tutur Deby Aprilia salah satu peserta UN dari SMA santa Maria Yogyakarta.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ujian Nasional tahun ini mencakup enam mata pelajaran, hal ini yang menjadikan suasana sangat menegangkan dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya tiga mata pelajaran. Tahun ini menjadi sangat berat dengan enam mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Ekonomi, Geografi, dan Sosiologi untuk jurusan IPS) dan (Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia, dan Biologi untuk jurusan IPA). Ketentuan lain yang sangat memberatkan adalah tuntutan nilai yang semakin tinggi yaitu nilai terendah 4,25 dan rata-rata nilai adalah 5,25. Jika menggunakan ketentuan seperti tahun lalu sudah dirasa sulit apalagi dengan ketentuan yang sekarang, tentu akan lebih memberatkan peserta ujian.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Hampir seluruh siswa mengatakan resah dengan hasil yang akan mereka terima nanti. Sebagai bekal menempuh ujian hampir seluruh siswa siswa mengikuti bimbingan belajar dan <em>try out </em>baik dari pihak sekolah maupun luar sekolah. Deby Aprilia, mengaku mengundang guru les privat untuk membantu penguasaan materi. Adapun alasannya untuk mengikuti les privat ini agar dapat memecahkan soal dalam waktu singkat dengan akurasi yang tinggi sehingga memudahkan berpikir mereka dalam mengerjakan soal. Semua usaha sudah Ia lakukan dengan maksimal dan Ia sangat berharap bisa lulus dan segera meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/windiarti.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/windiarti.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=23&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/ketika-un-membuat-jantung-berdebar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/dsc088461.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/18/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/18/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:29:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[        Wisuda Diploma, Sarjana dan Magister yang berlangsung di Lapangan Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Sabtu, 26 April 2008, berlangsung meriah. Wisuda yang berlangsung pukul 07.00-11.00 Wib ini diikuti sekitar 622 wisudawan dari 920 lulusan. Rasa bangga, haru, dan bahagia menyelimuti mereka. Tidak sedikit kerabat dan teman terdekat yang menunggu selama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=18&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/img_20438.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-20" src="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/img_20438.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify">Wisuda Diploma, Sarjana dan Magister yang berlangsung di Lapangan Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Sabtu, 26 April 2008, berlangsung meriah. Wisuda yang berlangsung pukul 07.00-11.00 Wib ini diikuti sekitar 622 wisudawan dari 920 lulusan. Rasa bangga, haru, dan bahagia menyelimuti mereka. Tidak sedikit kerabat dan teman terdekat yang menunggu selama wisuda berlangsung. “Saya bangga sekali saat ini bisa merasakan suksesnya studi yang saya tempuh kurang dari 4 tahun, terutama saya bahagia karena orang tua dan teman terdekat dapat hadir disini” kata Yanuar Nanang salah seorang wisudawan dari Fakultas Tekhnik, Program Studi Tekhnik Mesin angkatan 2004 yang mencapai IP 3,62. Ia diwisuda bersama lulusan Tekhnik Mesin yang lain oleh Dekan Fakultas Tekhnik Ir. G. Heliarko, S.J., S.S. , BST., M.A., M.Sc</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">           Suasana wisuda dimeriahkan oleh paduan suara UKM Cantus Firmus yang membawakan beberapa lagu dengan indah. UKM Karawitan juga menyumbangkan kepiawaian mereka dalam bermain musik tradisional Jawa. Suasana wisuda menjadi lebih indah dengan iringan gamelan jawa yang mereka mainkan. Setelah acara wisuda selesai, suasana wisuda diwarnai dengan gemerlap cahaya blitz yang menyelimuti Realino. Lebih dari dua puluh studio foto berjajar menawarkan jasanya untuk mengabadikan kenangan yang tak akan terlupakan itu. Mahasiswa banyak dilibatkan menjadi panitia wisuda, salah satunya menjadi petugas keamanan. Polisi juga banyak membantu lancarnya acara tersebut dengan berjaga di pintu masuk dan membantu pengaturan parkir agar suasana parkiran menjadi lebih teratur dan tertib.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">           Sekitar panggung wisuda banyak digunakan oleh pedagang untuk menjual barang-barang mereka seperti makanan, minuman dan bunga mawar dengan harga miring sekitar Rp. 5.000,00 pertangkai . Mahasiswa dari Program Studi Manajemen yang sedang praktek mata kuliah Kewirausahaan pun tak mau kalah dalam meramaikan suasana, mereka memamerkan hasil karya kerajinan tradisional berupa batik, pernak-pernik, tas, dan makanan. Acara wisuda menjadi tampak lebih semarak dengan kehadiran mereka karena bisa menambah ramainya suasana dan bisa menjadikan kenangan wisuda menjadi lebih berkesan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/windiarti.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/windiarti.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=18&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/img_20438.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/10/</link>
		<comments>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/10/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windiarti</dc:creator>
				<category><![CDATA[wisuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windiarti.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Wisuda Diploma, Sarjana dan Magister yang berlangsung di Lapangan Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Sabtu, 26 April 2008, berlangsung meriah. Wisuda yang berlangsung pukul 07.00-11.00 Wib ini diikuti sekitar 622 wisudawan dari 920 lulusan. Rasa bangga, haru, dan bahagia menyelimuti mereka. Tidak sedikit kerabat dan teman terdekat yang menunggu selama wisuda berlangsung. “Saya bangga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=10&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href='http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/img_20436.jpg'><img src="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/img_20436.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-17" /></a><br />
           Wisuda Diploma, Sarjana dan Magister yang berlangsung di Lapangan Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada  Sabtu, 26 April 2008, berlangsung meriah. Wisuda yang berlangsung pukul 07.00-11.00 Wib ini diikuti sekitar 622 wisudawan dari 920 lulusan. Rasa bangga, haru, dan bahagia menyelimuti mereka. Tidak sedikit kerabat dan teman terdekat yang menunggu selama wisuda berlangsung. “Saya bangga sekali saat ini bisa merasakan suksesnya studi yang saya tempuh kurang dari 4 tahun, terutama saya bahagia karena orang tua dan teman terdekat dapat hadir disini” kata Yanuar Nanang salah seorang wisudawan dari Fakultas Tekhnik, Program Studi Tekhnik Mesin angkatan 2004 yang mencapai IP 3,62. Ia diwisuda bersama lulusan Tekhnik Mesin yang lain oleh Dekan Fakultas Tekhnik Ir. G. Heliarko, S.J., S.S. , BST., M.A., M.Sc<br />
	Suasana wisuda dimeriahkan oleh paduan suara UKM Cantus Firmus yang membawakan beberapa lagu dengan indah. UKM Karawitan juga menyumbangkan kepiawaian mereka dalam bermain musik tradisional Jawa. Suasana wisuda menjadi lebih indah dengan iringan gamelan jawa yang mereka mainkan. Setelah acara wisuda selesai, suasana wisuda diwarnai dengan gemerlap cahaya blitz yang menyelimuti Realino. Lebih dari dua puluh studio foto berjajar menawarkan jasanya untuk mengabadikan kenangan yang tak akan terlupakan itu. Mahasiswa banyak dilibatkan menjadi panitia wisuda, salah satunya menjadi petugas keamanan. Polisi juga banyak membantu lancarnya acara tersebut dengan berjaga di pintu masuk dan membantu pengaturan parkir agar suasana parkiran menjadi lebih teratur dan tertib.<br />
	Sekitar panggung wisuda banyak digunakan  oleh pedagang untuk menjual barang-barang mereka seperti makanan, minuman dan bunga mawar dengan harga miring sekitar Rp. 5.000,00 pertangkai . Mahasiswa dari Program Studi Manajemen  yang sedang praktek mata kuliah Kewirausahaan pun tak mau kalah dalam meramaikan suasana, mereka memamerkan hasil karya kerajinan tradisional berupa batik, pernak-pernik, tas, dan makanan. Acara wisuda menjadi tampak lebih semarak dengan kehadiran mereka  karena bisa menambah ramainya suasana dan bisa menjadikan kenangan wisuda menjadi lebih berkesan. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/windiarti.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/windiarti.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/windiarti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/windiarti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/windiarti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/windiarti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/windiarti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/windiarti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/windiarti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/windiarti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/windiarti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/windiarti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/windiarti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/windiarti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/windiarti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/windiarti.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=windiarti.wordpress.com&amp;blog=3352405&amp;post=10&amp;subd=windiarti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windiarti.wordpress.com/2008/04/30/10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3c64f6f5ff068ed76ea0becff978c213?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">windiarti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://windiarti.files.wordpress.com/2008/04/img_20436.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
