Windiarti’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

March 13, 2010

Filed under: hubungan tanpa status (hts) — windiarti @ 5:04 am

Hubungan Tanpa Status

Kita tentu tak asing lagi bila mendengar istilah hubungan tanpa status (HTS), hubungan semacam ini memang sangat dekat dengan kehidupan cinta remaja. Beberapa dari kita mungkin pernah mengalaminya atau bahkan sedang menjalani status hubungan ini. Hubungan yang satu ini memang bisa dikatakan unik. Hubungan tanpa status adalah sebuah hubungan asmara yang terjalin dalam ketidakpastian, dibilang pacar, bukan. Dibilang teman, kok mesra banget ya? Sebenarnya apa yang dicari dari hubungan yang serba tidak jelas itu? Cinta, atau sekedar iseng saja?

Hubungan tanpa status memang berbeda tipis dengan pacaran. Bedanya HTS dilakukan tanpa rasa memiliki dan tanpa kata jadian. Intinya kita bisa saling menyayangi tanpa harus menyandang status pacaran. Bagi mereka yang tidak ingin terikat, tentu saja hubungan ini akan terasa menyenangkan. Salah satu keasyikan dari HTS adalah adanya kesempatan bagi pelakunya untuk melirik cewek atau cowok lain tanpa harus takut akan ada yang marah.

Peminat HTS kebanyakan adalah remaja yang sedang mencari jati diri dan mencari pengakuan bahwa dirinya berarti bagi orang lain sehingga bisa disukai oleh banyak lawan jenis. Cukup banyak kaum muda yang mau menjalani status ini.  Bagi yang  tertarik akan HTS karena pada dasarnya memiliki jiwa player, hobi tebar pesona kepada lawan jenis, tapi ingin menempuh cara yang aman, HTS merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan. Inisiatif pertama untuk menjalani HTS biasanya datang dari cowok. Hal ini disebabkan cowok cenderung memiliki keberanian lebih untuk mengejar cewek.

Secara umum, pribadi yang menjalani HTS adalah pribadi yang tidak dewasa. Ketidak dewasaan tampak ketika sesorang tidak berani bertanggung jawab akan pilihannya dan berkomitmen menjalani akibat baik maupun buruk akan pilihannya.

Tim muda Kompas mempunyai data kuat mengenai minat ber-HTS yang cukup tinggi. Menurut hasil polling kepada 100 remaja cewek dan cowok, terbukti bahwa 57% responden pernah ber-HTS, sementara sisanya belum pernah. Dari hasil polling tadi dapat diketahui bahwa 27% responden bilang bahwa HTS itu enak, 57% lebih enak pacaran, 2% enakan nikah, dan 14% tidak menjawab (Kompas, 12 Desember 2003 melalui Tabloid Hai, ……..). dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa ternyata kebanyakan remaja menyukai HTS, bagaimanapun resikonya.

Tapi sadar ataupun tidak, tidak selamanya kita bisa hidup dengan ber-HTS, semua pasti ada habisnya. Uniknya bagi beberapa cowok HTS justru dianggap sebagai ajang penjajakan untuk mencari yang terbaik. “Kalau cocok ya lanjut, kalau tidak ya tinggalin aja, sampai dapat yang sesuai tipeku” begitu ungkap Doni yang merupakan salah satu mahasiswa di sebuah universitas di Yogyakarta. Walaupun biasanya HTS hanya untuk sementara, tetapi ada keasyikan tersendiri ketika menjalaninya. Doni mengaku sudah 5 kali ber-HTS, “Semuanya berakhir dengan lost contact ketika aku memilih yang baru untuk ber-HTS, aku memilih untuk tidak lagi menghubunginya karena sudah menemukan yang baru” ungkapnya. Melihat sikapnya itu, pantaslah kalau banyak orang menyebutnya playboy.

Cewek pun tak mau kalah dari cowok. Meskipun terkadang mereka akhirnya menjadi korban sakit hati karena HTS, tetapi, banyak dari mereka yang menyukai HTS. Salah atunya adalah Eli. Remaja 15 tahun ini mengaku sudah 3 kali menjalani HTS. Sedikit berbeda dengan Doni, motivasinya dalam menjalani HTS adalah sekedar untuk mencari kesenangan saja. “ Bisa disayang banyak orang, ada yang merhatiin juga, itu lah mengapa aku memilih HTS” ungkapnya. Tapi namanya juga cewek, walaupun ada kesepakatan awal untuk tidak saling cinta dan tidak ada komitmen, tetapi setiap kali ia ditinggalkan oleh HTS-annya dia selalu sakit hati.

Di balik terjalinnya HTS, ada berbagai penyebab yang patut kamu pahami, faktor-faktor itu antara lain:

  1. Faktor internal

Faktor internal, datang dari perasaan kedua pasangan. Misalnya, bagi yang sudah memiliki hubungan dan sedang bermasalah, kemudian sering curhat kepada salah satu lawan jenis. Lalu, tanpa disadari benih-benih cinta bersemayam di dalam hati. Hubungan pun tak lagi sekadar pertemanan biasa.

  1. Faktor eksternal

Faktor eksternal pun turut memacu timbulnya hubungan tanpa status.
Misalnya saja faktor aturan keluarga, yang kurang menyetujui pasangan yang dipilih anaknya. Aturan ini yang membuat anak memilih HTS sebagai pelarian.
3. Tidak berani berkomitmen

Sejatinya, sebuah hubungan yang sehat membutuhkan sebuah kepastian yang diwujudkan dalam sebuah komitmen. Salah satu pemacu terjalinnya hubungan tanpa status disebabkan salah satu atau kedua pasangan tak ingin membina komitmen.  Sehingga hubungan yang terjalin hanya berdasarkan pada kesenangan semata.

Tetapi ketika seseorang memilih berhubungan tanpa status, maka, sampai kapan pun dia tidak bisa menuntut lebih pada pasangannya untuk melakukan banyak hal. Termasuk juga ketika si dia lebih memilih orang lain sebagai kekasih hati. Kamu pun harus menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Dengan kata lain, jangan memberikan rasa cinta yang berlebih kepada pasangan HTS, karena bagaimana pun, dia bukan milik kita sepenuhnya.

Sebenarnya sah-sah saja HTS, apalagi kalau dipakai untuk mencari pacar yang cocok. HTS itu bisa digunakan untuk menambah wawasan mengenai sifat lawan jenis, memperluas pergaulan, dan belajar hemat (banyak memiliki HTS, tentu memerlukan banyak uang, jadi sekalian belajar hemat). Semua itu bisa berjalan baik tanpa ada sakit hati bila ada kesepakatan dari kedua belah pihak. Kesepakatan inilah yang harus dipegang erat agar tidak ada pihak yang merasa sakit hati.

Bila kamu sudah mengetahui resiko HTS dan ingin tetap ber-HTS, berikut ada beberapa tips yang harus kita perhatikan agar semua hal dapat berjalan lancar.

Tips HTS

  1. Just for fun

Saat menjalani sebuah hubungan tanpa status, kamu tak berhak marah ketika si dia menghilang dari hadapanmu, begitu juga sebaliknya. Agar kamu tak merasa sakit hati saat ditinggalkan, tanamkan dalam hati bahwa hubungan ini sekadar ‘just for fun’ saja.

  1. Pastikan pasanganmu sealiran.

Cari pasangan yang setuju dengan HTS, dengan begitu kamu bisa memberikan perhatian yang besar padanya. Tidak akan ada yang merasa risih dan menunggu ungkapan cintamu.

  1. Tahu batasan HTS

Batasan bisa diartikan kesepakatan dari kedua belah pihak. Sebisa mungkin hindari kontak fisik bisa membuat salah satu pasangan tak lagi menjalani hubungan ‘just for fun’ melainkan akan memacu tumbuhnya benih-benih cinta diantara kalian berdua. Terkecuali jika secara refleks saat menyeberang jalan, jadi perlu digandeng).

  1. Tak ada cemburu

Jangan memberi kesempatan rasa cemburu menguasai hati dan pikiranmu, sehingga tak perlu merasa sakit hati ketika si dia dekat dengan orang lain begitu pula sebaliknya. Jika si dia cemburu, ingatkan bahwa kalian hanya menjalin sebuah hubungan tanpa status, tanpa ada ikatan yang jelas. Jadi sudah sewajarnya rasa cemburu tak boleh merasuki hati kalian berdua.

  1. Never fall in love

Sekali kamu jatuh cinta, kamu tidak akan bisa htsan lagi. Lebih baik mundur atau memikirkan hal yang lebih serius.

  1. Jangan terlalu berharap

Jika kamu berharap dari hubungan yang tidak memiliki kepastian sudah pasti kamu salah. Oleh karena itu, tak perlu menggantungkan harapanmu pada pasangan begitu tinggi, karena kamu tahu dengan pasti bahwa si dia belum tentu bisa memenuhi semua harapan-harapan anda pada dirinya.

(Dari berbagai sumber (Hai, google),  dan pemikiranku, hehe…, Dimohon kritiknya ya!!!!)

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.